15 March, 2007

Berkomitmen Dalam Iftitah

Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya
mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar.
(QS. Al-Fath (48): 10)

Kekuatan Komitmen
Setelah membangun impian maka kita memerlukan komitmen untuk menggapai impian itu. Kenapa butuh komitmen? karena dalam perjalanan pencapaian impian akan ditemui kesulitan dan hambatan. Komitmen berfungsi untuk memperkuatnya, senantiasa teguh menjalankan, bangkit jika tersandung hingga memperoleh apa yang dia impikan.

Komitmen yang dilakukan dengan sebaik-baiknya akan menghasilkan integritas tinggi. Integritas tinggi terlihat pada dia mendapatkan trust dari orang lain karena apa yang diucapkan benar akan dilakukan. Apa yang dijanjikan pasti akan ditepati. Komitmen adalah bentuk kesadaran seseorang untuk berani mengambil keputusan, berani melaksanakan keputusan, dan berani menyelesaikan apa yang dikerjakan.
Janji (pernyataan komitmen) kita, seperti ditulis oleh Ary Ginanjar dalam buku ESQ, janji menarik suasana hati orang lain secara besar-besaran yaitu adanya sebuah harapan kepada kita, lalu energi itu kita bawa pulang, kemudian jika energi itu tidak kita kembalikan keseimbangan orang lain akan terganggu karena harapan orang itu telah kita tarik dan belum kita kembalikan. Tidak kembalinya energi ini menyebabkan ketidakpercayaan orang lain terhadap kita, menimbulkan perasaan tidak suka, sinis, dan ekspresi-ekspresi negatif lain.

Orang yang berani berkomitmen telah membuka satu pintu menuju kesuksesan, karena tidak ada kesuksesan tanpa adanya komitmen, baik komitmen kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Orang yang berkomitmen berani memastikan tindakan-tindakan yang harus dilakukan. Juga orang yang berani berkomitmen karena dia mengetahui kepastian apa yang ia dapatkan kelak, yaitu membina kesuksesan. Komitmen juga berkaitan dengan keberanian. Orang berkomitmen berani menanggung segala bentuk resikonya apakah itu menyenangkan, menggembirakan atau bahkan malah menyedihkan dan menyakitkan.

Orang berkomitmen bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi selanjutnya terhadap apa yang diucapkan, jika terjadi kerugian dia bertanggungjawab untuk menggantinya, jika terjadi kekurangan dia bertanggung jawab untuk menutupi kekurangannnya. Bahkan ia berani menyerahkan diri sepenuhnya sebagai bentuk tanggungjawabnya.

Ada kisah menarik tentang komitmen. Saya mendapatkan kisah ini dari sebuah milis, yang setelah membacanya, saya terharu dengan perjuangan orang ini untuk mendapatkan impiannya. Berikut kisahnya:
Pada tahun 1986 di New York diadakan lomba marathon internasional yang diikuti oleh ribuan pelari dari seluruh dunia. Lomba ini mengambil jarak 42 kilometer mengelilingi kota New York. Jutaan orang dari seluruh dunia ikut menonton acara tersebut melalui puluhan televisi yang merelainya secara langsung.

Ada satu orang yang menjadi pusat perhatian di lomba tersebut, yaitu Bob Willen. Bob adalah seorang veteran perang Amerika, dan dia kehilangan kedua kakinya karena terkena ranjau saat perang di Vietnam. Untuk berlari, Bob menggunakan kedua tangannya untuk melemparkan badannya ke depan.
Dan lomba pun dimulailah. Ribuan orang mulai berlari secepat mungkin ke garis finish. Wajah-wajah mereka menunjukkan semangat yang kuat. Para penonton tak henti-hentinya bertepuk tangan untuk terus mendukung para pelari.

5 kilometer telah berlalu. Beberapa peserta nampak mulai kelelahan dan mulai berjalan kaki. 10 kilometer telah berlalu. Di sini mulai nampak siapa yang mempersiapkan diri dengan baik, dan siapa yang hanya sekedar ikut-ikutan. Beberapa peserta yang nampak kelelahan memutuskan untuk berhenti dan naik ke bis panitia.

Sementara hampir seluruh peserta telah berada di kilometer ke-5 hingga ke-10, Bob Willen yang berada di urutan paling belakang baru saja menyelesaikan kilometer pertamanya.
Bob berhenti sejenak, membuka kedua sarung tangannya yang sudah koyak, menggantinya dengan yang baru, dan kemudian kembali berlari dengan melempar-lemparkan tubuhnya kedepan dengan kedua tangannya. Ayah Bob yang berada bersama ribuan penonton lainnya tak henti-hentinya berseru "Ayo Bob… Ayo Bob… berlarilah terus".

Karena keterbatasan fisiknya, Bob hanya mampu berlari sejauh 10 kilometer selama satu hari. Di malam hari, Bob tidur di dalam sleeping bag yang telah disiapkan oleh panitia yang mengikutinya.
Akhirnya empat hari telah berlalu, dan kini adalah hari kelima bagi Bob Willen. Tinggal dua kilometer lagi yang harus ditempuh.

Hingga suatu saat, hanya tinggal 100 meter lagi dari garis finish, Bob jatuh terguling. Fisik Bob benar-2 telah habis saat itu. Bob perlahan-2 bangkit dan membuka kedua sarung tangannya. Nampak disana tangan Bob sudah berdarah-darah. Dokter yang mendampinginya sejenak memeriksanya, dan mengatakan bahwa kondisi Bob sudah parah, bukan karena luka di tangannya saja, namun lebih ke arah kondisi jantung dan pernafasannya.

Sejenak Bob memejamkan mata. Dan di tengah-tengah gemuruh suara penonton yang mendukungnya, samar-samar Bob dapat mendengar suara ayahnya yang berteriak "Ayo Bob, bangkit! Selesaikan apa yang telah kamu mulai. Buka matamu, dan tegakkan badanmu. Lihatlah ke depan, garis finish telah di depan mata. Cepat bangun! Tunjukkan ke semua orang siapa dirimu, jangan menyerah! Cepat bangkit!!!"

Pelan-pelan Bob mulai membuka matanya kembali. Saat itulah matanya melihat garis finish yang sudah dekat. Semangat mulai membara kembali di dalam dirinya, dan tanpa sarung tangan, Bob melompat-lompat ke depan. "Ya, ayo Bob… satu lompatan lagi, Bob… Capailah apa yang kamu inginkan, Bob!" teriak ayahnya yang terus berlari mendampinginya. Dan satu lompatan terakhir dari Bob membuat tubuhnya melampaui garis finish. Saat itu meledaklah gemuruh dari para penonton yang berada di tempat itu.

Bob bukan saja telah menyelesaikan perlombaan itu, Bob bahkan tercatat di Guiness Book of Record sebagai satu-satunya orang cacat yang berhasil menyelesaikan lari marathon.
Beberapa saat kemudian, ketika ada puluhan wartawan yang menemuinya, Bob berkata,
"Saya bukan orang hebat. Anda tahu saya tidak punya kaki lagi.
Saya hanya menyelesaikan apa yang telah saya mulai.
Saya hanya mencapai apa yang telah saya inginkan.
Dan kebahagiaan saya dapatkan bukan dari apa yang saya dapatkan,
Tapi dari proses untuk mendapatkannya. Selama lomba,
Fisik saya menurun drastis. Tangan saya sudah hancur berdarah-darah.
Tapi rasa sakit di hati saya terjadi bukan karena luka itu,
Tapi ketika saya memalingkan wajah saya dari garis finish.
Jadi saya kembali fokus untuk menatap goal saya.
Saya rasa tidak ada orang yang akan gagal dalam lari marathon ini.
Tidak masalah anda akan mencapainya dalam berapa lama,
Asal anda terus berlari. Anda disebut gagal bila anda berhenti.
Jadi, janganlah berhenti sebelum tujuan anda telah tercapai."
Begitu luar biasa Bob Willen memperjuangkan impiannya. Ia tidak berniat mengalahkan orang lain, bahkan dia menjadi urutan terakhir di lomba itu. Tapi dia mengalahkan dirinya sendiri, dia mengalahkan rasa sakitnya dan kelelahannya untuk satu hal, impiannya: berlari marathon. Tidak sekedar berlari, toh ternyata banyak yang berguguran di jalan sebelum mencapai finish. Bob memimpikan menyelesaikan lari marathon. Komitmen yang tertanam dalam dirinya, ia harus menyelesaikan apa yang sudah ia mulai.

Seorang mukmin bisa mendapatkan kekuatan yang lebih dahsyat dari Bob jika menyadari bahwa Alloh telah mengajari kita tentang komitmen. Komitmen yang bukan hanya untuk kepentingan pribadi, namun komitmen dari pribadi ‘pengelola alam’ (khalifatulloh). Komitmen untuk menghasilkan karya-karya hebat, komitmen untuk bermanfaat bagi ummat dan komitmet untuk menegakkan agama rahmat. Insya Alloh kekuatannya lebih dahsyat dibandingkan sekedar prestasi marathon yang nikmatnya sesaat.
Kemampuan seperti ini hanya dimiliki oleh orang beriman, yaitu mereka yang menjalankan sholat dan mendapatkan sholatnya. Orang yang memiliki komitmen besar seperti ini mendapatkan pelajaran dari iftitah.

Iftitah adalah bentuk penyerahan diri setulus-tulusnya kepada Alloh SWT. Ia berjanji bahwa sholat, ibadah, hidup dan mati hanya untuk Alloh, dan dilakukan sepenuhnya untuk Alloh. Tidak ada lain yang menyekutukannya. Jika sudah demikian kekuatan apa yang bisa mengalahkan komitmen terbesar dari seorang mukmin.

Ia akan bersedia melakukan sesuatu hanya untuk mendapatkan ridhoNya, bukan untuk mendapatkan sorak sorai, dan riuh rendah dari orang lain. Ia hanya menginginkan Alloh melihatnya dengan pandangan kasih dan sayang, karena ia telah melakukan yang terbaik, serta tepukan tangan malaikat, “Engkau telah melakukannya dengan baik”. Aktivitas seperti ini muncul berkat komitmen yang besar, komitmen yang diperoleh dari iftitah.

Sungguh ini adalah pelajaran komitmen sepanjang hayat. Ia yang menemukan komitmen dalam iftitah, tidak perlu diawasi oleh siapapun, kecuali oleh Allloh SWT. Kapanpun dan dimanapun dia berada, dia merasakan pandangan Al-Bashir. Tanpa pengawasan siapapun ia tidak akan menyalahi apa yang dia janjikan, tanpa dipuji orang lain ia akan menunaikan apa yang telah diucapkan, dihina sekalipun jika untuk kebaikan tetap akan ia kerjakan. Karena harapannya hanya satu ridho Alloh. Ia tetap akan menjaga komitmennya, tidak menyeleweng, tidak korupsi dan tidak munafik.

Sungguh disayangkan, banyak diantara kita masih mengerjakan sholat untuk sekedar menggugurkan kewajiban saja. Belum memperoleh sholat, belum mendapatkan pelajaran dari sholat, dan belum memiliki pribadi-pribadi sholat. Orang yang memperoleh sholat akan membekas pelajaran sholat dalam kehidupan sehari-harinya. Termasuk orang yang memperoleh pelajaran komitmen dari sholat, ia akan menunjukkan komitmen itu dalam kehidupannya. Ia akan menjadi orang yang seiya sekata antara apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan. Ia akan menjadi orang yang berani memulai dan pula berani untuk mengakhiri. Mengakhiri bukan dengan ditinggal lari, tapi mengakhiri dengan diselesaikan. Diselesaikan dengan elegan.

Pelajaran Dari Komitmen
Ada tiga pelajaran yang diperoleh orang yang meiliki komitmen tinggi. Inilah pelajarannya:

Ia memperoleh Pelajaran Memanah
Tidak dikatakan memanah jika hanya memegang busur dan anak panah, belum dikatakan memanah jika hanya menempatkan anak panah pada busurnya lalu menariknya. Memanah harus berani meluncurkan, memanah harus berani memulai. Dikatakan memanah ketika anak panah sudah diluncurkan.
Orang beriman dalam iftitah dia mendapatkan pelajaran ‘memanah’ ini. Pelajaran untuk berani memulai. Berani mengatakan, berani menentukan sikap, dan berani ‘meluncurkan’. Impian besar tidak akan pernah terwujud tanpa keberanian untuk memulainya. Perjalanan panjang tidak akan pernah tercapai tanpa satu langkah awalan. Bukankah perjalanan 1000 mil juga harus diawali satu langkah pertama. Tanpa satu langkah pertama mustahil untuk mengharap sampai titik 1000 mil.
Banyak orang bercita-cita dan bermimpi besar, namun tidak mempunyai kemauan untuk memulainya. Impian itu hanya mengendap di dalam otak dan lama kelamaan akan membusuk karena dibiarkan tanpa action mengambil langkah-langkah untuk menujunya. Busuk dan tidak berguna. Ia hanya indah saat memimpikan dan menghayalkan. Setelah selesai berimajinasi menjadi tidak ada ‘apa-apanya’. Busuk, karena terlalu lama tidak diambil dari sarangnya, tidak ‘dierami’ dan ‘ditetaskan’ menjadi ayam besar. Hanya menjadi telur busuk yang orang jijik melihatnya apa lagi memakannya.
Orang sukses berani mengambil tindakan, tentunya diserti dengan persiapan matang. Sukses mempersiapkan berarti mempersiapkan sukses. Dan persiapan yang baik memberi sumbangan 50% pada kesuksesan. Yang dengan persiapan itu ia dapat berdiri tegap, berangkat dengan semangat, melangkah dengan gagah dan menuju tujuan dengan iman. Percaya…, pasti dikabulkan.

Ia memperoleh Pelajaran Perang
Saat berhadapan dengan musuh, tidak ada jalan lain kecuali melakukan pertarungan. Mundur adalah tindakan seorang pengecut, berdiam adalah tingkah orang kalah, dan maju menyerang adalah tantangan untuk menang. Untuk menang memang sebuah tantangan. Jalannya sulit, berduri, banyak tanjakan, banyak turunan, juga banyak hambatan dan rintangan. Dalam pendakian banyak yang tidak kuat mencapai puncak kesuksesan. Bukan jalan dan cara yang dialihkan tapi impian diturunkan, bahkan serendah-rendahnya dengan tidak bermimpi saja mereka bisa meraihnya. Merekalah orang-orang kalah.
Menyerang adalah tantangan. Kita bisa mengalahkan atau dikalahkan. Saya menyebutnya keduanya adalah bentuk kemenangan. Mengalahkan adalah kemenangan dan dikalahkan (syahid) juga kemenangan. Dengan mati kita memenangkan pahala syahid dari Alloh. Sungguh indah dalam islam, agama yang penyempurna dan agama orang-orang yang menang. Dari tiap diri dan tiap hari kita bisa mendapatkan kemenangan. Mereka yang hari ini lebih baik dengan kemarin dan besok lebih baik dari hari ini, merekalah orang-orang yang menang.
Perang bukanlah tujuan, perang adalah jalan, cara, dan tindakan yang harus dilakukan demi menciptakan rahmat bagi semesta alam. Bila ada golongan yang berbuat maksiyat, melakukan kegiatan yang menyebabkan laknat, dan menjadi penghalang turunnya rahmat maka kita wajib memeranginya. Melakukannya… dan hasilnya bukan sebuah pilihan, namun keniscayaan, yaitu satu hal KEMENANGAN.
Dalam proses pencapaian impian kita harus menerapkan ilmu perang. Sebelum Alloh memisahkan nyawa dari raga, tidak ada yang berhak menghakimi kita dalam mencapai impian.
Boleh, orang mengatakan kita tidak akan sampai pada tujuan
Boleh, orang menyangsikan kita tidak akan menang
Boleh, orang meragukan kita tidak akan mampu
Boleh, orang tertawa dan menghina, mengatakan kita tidakbisa
Selama kita percaya kita bisa melakukan dan merasakan Alloh bersama kita, tidak ada kata tidak mungkin.
Alloh maha melihat usaha kita. Buatlah Alloh terharu menyaksikan usaha-usaha yang kita lakukan.

Ia memperoleh Pelajaran Berlayar
Tidak ada pelayaran tanpa sebuah tujuan. Berlayar harus memiliki tujuan. Colombuspun berlayar untuk sebuah tujuan menemukan daratan baru, meski dia belum tahu dimana daratan itu berada. Berlayar harus diselesaikan. Diselesaikan dengan mencapai tujuan.
Dalam pelayaran, jika tiba-tiba mesin kapal mati dan tidak berfungsi lagi. Apakah itu pertanda perjalanan telah diakhiri? Kita merasa bahagia telah menempuh perjalanan hingga tengah lautan? Bukan untuk itu pelayaran dilakukan. Berlayar dimaksudkan hendak menuju sebuah tujuan. Masih ada cara lain untuk menuju kesana. Mengibarkan layar adalah salah satun caranya. Ada harapan kembali pada tujuan yang ingin dicapai.
Hal tak terduga kembali terjadi, turunlah hujan lebat disertai badai besar, menghantam kapal. Kapal retak-retak, bocor, layar rusak, tiang-tiang tak lagi tegak, lambat tapi pasti kapal akan tenggelam. Sudah berakhirkah tujuan kita? Bukankah masih ada sekoci dan pelampung untuk mencapai tujuan?
Perjalanan harus diselesaikan, impian harus didapatkan, meski harus dilalui dengan terengah-engah, banyak hambatan dan rintangan menghadang. Pantang pulang dan menoleh kebelakang, jika itu karena sifat kepengecutan. Perjalanan harus diselesaikan dengan husnul khotimah. Happy Ending.
Tidak hanya happy pada ending-nya, kita juga bisa mendapatkan happy saat memulainya dan happy saat melakukannya. Happy starting, Happy Doing. Bagaimana? Semuanya kita dapatkan dalam sekolah Sholat. Sholat mengajari kita membangun impian. Impian-impian yang kita senangi dan disenangi Alloh, melaui takbir. Dan Alloh Sang Maha Besar yang menghendaki kita menjadi orang-orang besar. Isi selanjutnya dari buku ini tentang optimis. Bagaimana kita tidak optimis dan antusias, Alloh begitu mengasihi dan menyayangi kita. Alloh akan menunjukkan kita jalan orang-orang yang sukses, kita memperolehnya dalam fatihah. Alloh mengetahui kalau kita kreatif, dalam sholatpun kita diajari, kreatif yang benar. Kita belajar dari membaca ayat atau surat dalam al-Qur’an. Pelajaran dari ruku’, I’tidal, sujud, duduk diantara dua sujud, bangkit dari dua sujud, dan salam dan seterusnya. Alloh menunjukkan jalan untuk kita agar kita menjadi bahagia. Bahagia selamanya. Selama kita berketetapan untuk tholabul ‘ilmi dari buaian hingga liang lahat menyempurnakan islam dalam diri kita menjadi islam yang kaffah. Insya Alloh, itulah jalan bahagia.

Komitmen Dalam Iftitah
Menurut Mowday, Porter dan Steers, seseorang dalam sebuah organisasi memiliki komitmen yang baik, ia memiliki sikap yang baik pula pada ketiga hal, seperti dibawah ini:

1. Identifikasi
Identifikasi mewujud dalam bentuk kepercayaan seseorang terhadap organisasi. Anggota dengan komitmen yang baik mempercayai kepercayaan yang baik terhadap organisasi. Kepercayaan seperti ini disebabkan kesadaran akan manfaat yang diperoleh dalam organisasi. Ada kesearahan antara tujuan-tujuan pribadi dengan tujuan organisasi. Identifikasi tampak melalui sikap menyetujui kebijakan-kebijakan organisasi, kesamaan nilai pribadi dengan nilai-nilai organisasi, dan merasa bangga menjadi bagian dari organisasi.
Demikian juga dalam hal pencapaian kesuksesan, perlu identifikasi yang baik terhadap apa yang ingin dicapai, karena ia akan menimbulkan komitmen. Pengenalan dan pemahaman tujuan secara baik dan menyeluruh akan menimbulkan kepercayaan yang baik pada diri seseorang. Kepercayaan yang baik terhadap tujuan akan menguatkan komitmen seseorang.

2. Keterlibatan
Perasaan senang akan apa yang dikerjakan akan menjadikan komitmen semakin kuat. Seorang anggota akan menerima tugas dan tanggung jawab pekerjaan dengan perasaan senang. Perasaan senang ini biasanya muncul karena apa yang dikerjakan sesuai dengan impian yang ingin diwujudkan. Dan apa yang diimpikan itu berasal dari dirinya sendiri, bukan karena dipaksakan orang lain. Sehingga ada keterlibatan dirinya dalam pembangunan impian dan proses pencapaiannya.

3. Loyalitas
Anggota dengan komitmen tinggi merasakan adanya loyalitas dan rasa memiliki terhadap organisasi. Anggota seperti ini akan memberikan apa yang ia punya dan apa yang ia bisa seoptimal mungkin. Orang akan sangat loyal jika ia benar mendapat manfaat dari apa yang dikerjakan. Orang akan sangat loyal memberikan apa yang ia miliki jika ia percaya apa yang diimpikan sangat berguna bagi dia dan harus diperjuangkan.
Impian kita untuk menjadi besar yang terinspirasi oleh takbir memerlukan komitmen kuat untuk mewujudkannya, dan Alloh memberikan pelajarannya dalam iftitah. Tiga aspek (identifikasi, keterlibatan, dan loyalitas), oleh Alloh ingin ditanamkan dalam diri kita. Kita juga mendapatkan pelajaran ‘memanah’, ‘berperang’, dan ‘berlayar’ dari sana. Semuanya untuk menguatkan komitmen kita, agar dalam hidup, kita menjadi pribadi-pribadi yang bertanggung jawab, pribadi-pribadi yang bermartabat, dan pribadi-pribadi bermanfaat.
Mari kita selami pelajaran komitmen dari iftitah, berikut doa iftitah yang kita baca dalam sholat:
Allaahu akbar kabiira, walhamdulillaahi katsiira, wa subhanallaahi bukrataw, waashiila.
(Allah Maha Besar, dan Segala Puji yang sangat banyak bagi Allah, dan Maha Suci Allah sepanjang pagi, dan petang).
Innii wajjahtu wajhiya, lillazii fatharassamaawaati walardha, haniifam, muslimaa, wamaa ana minal musrykiin.
(Sungguh aku hadapkan wajahku kepada wajahMu, yang telah menciptakan langit dan bumi, dengan penuh kelurusan, dan penyerahan diri, dan aku tidak termasuk orang-orang yang mempersekutuan Engkau/Musryik)
Innasshalaatii, wa nusukii, wa mahyaaya, wa mamaati, lillaahi rabbil ‘aalamiin.
(Sesungguhnya shalatku, dan ibadah qurbanku, dan hidupku, dan matiku, hanya untuk Allah Rabb Semesta Alam).
Laa syariikalahu, wabidzaalika umirtu, wa ana minal muslimiin.
(Tidak akan aku menduakan Engkau, dan memang aku diperintahkan seperti itu, dan aku termasuk golongan hamba yang berserah diri kepadaMu)
Demikian doa iftitah yang kita ucapkan pada tiap sholat setelah takbiratul ihrom. Ini adalah pernyataan tentang komitmen dari seorang hamba kepada Sang Pencipta. Pelajaran komitmen yang jika diterapkan dalam hidup, akan menghasilkan kekuatan luar biasa.
Kalimat, “Allaahu akbar kabiira, walhamdulillaahi katsiira, wa subhanallaahi bukrataw, waashiila.” (Allah Maha Besar, dan Segala Puji yang sangat banyak bagi Allah, dan Maha Suci Allah sepanjang pagi, dan petang), merupakan bentuk identifikasi berupa keyakinan bahwa Allohlah Sang Maha Besar. Mengucapkan pujian adalah bentuk kesyukuran hamba kepada Sang Pencipta. Dengan pujian (ungkapan syukur) yang banyak, karena nikmat yang diberikan Alloh kepada manusia tak terhingga jumlahnya. Tidak akan mungkin orang bersyukur dengan tidak memahami dan mengetahui apa yang ia syukuri dan siapa yang memberi. Kalimat ini merupakan pernyataan pengenalan dan pemahaman yang dalam terhadap Sang Pemberi, Alloh SWT.
Kalimat ini di dalam kehidupan akan menginspirasi seseorang untuk berkomitmen tinggi. Energi dan tindakan yang dihasilkan menjadi luar biasa. Tindakan yang tidak hanya sekedar karena diawasi oleh pimpinan, tidak sekedar mengharapkan gaji, namun tindakan yang muncul atas kesadaran diri dan hati nurani. Kesadaran untuk memberikan dan mengerjakan yang terbaik bagi Sang Pencipta kita, sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang tak terhingga.
“Innii wajjahtu wajhiya, lillazii fatharassamaawaati walardha, haniifam, muslimaa, wamaa ana minal musrykiin.” (Sungguh aku hadapkan wajahku kepada wajahMu, yang telah menciptakan langit dan bumi, dengan penuh kelurusan, dan penyerahan diri, dan aku tidak termasuk orang-orang yang mempersekutuan Engkau/Musryik). Menghadapkan wajah kepada zat Yang Maha Besar (yang menciptakan langit dan bumi), dengan penuh kelurusan adalah bentuk perbuatan dan keterlibatan. Komitmen tidak hanya sekedar pernyataan tetapi juga perbuatan untuk dilakukan yang artinya butuh keterlibatan. Cara melakukannya adalah dengan penuh kelurusan, yaitu dengan cara yang benar; cara yang diridhoi Alloh. Bukan cara orang-orang yang musyrik, yang mau menghalalkan segala macam cara untuk mencapai kesuksesan. Mau senang diatas kesusahan orang lain dan bisa merasa bahagia di atas penderitaan orang lain.
Orang-orang beriman mengambil tindakan dengan jalan yang benar, mengatasi permasalahan dengan win-win solution, sehingga tidak ada yang dirugikan. Memilih manfaat dari pada mudharat. Jikapun kedua-duanya mudharat, Nabi Muhammad telah mengajari untuk memilih ia yang sedikit mudharatnya. Begitu islam mengajarkan seseorang melakukan sesuatu. Semuanya penuh manfaat.
“Innasshalaatii, wa nusukii, wa mahyaaya, wa mamaati, lillaahi rabbil ‘aalamiin.” (Sesungguhnya shalatku, dan ibadah qurbanku, dan hidupku, dan matiku, hanya untuk Allah Rabb Semesta Alam). “Laa syariikalahu, wabidzaalika umirtu, wa ana minal muslimiin.” (Tidak akan aku menduakan Engkau, dan memang aku diperintahkan seperti itu, dan aku termasuk golongan hamba yang berserah diri kepadaMu).
Loyalitas total diberikan seorang hamba yang menyadari bahwa apa yang dilakukan belum dan tidak akan pernah cukup menggantikan segala nikmat yang diberikan Alloh kepadanya. Ia memberikan segala yang ia punya. Ia mengerahkan tenaga dan daya upaya yang ia bisa. Ia menyerahkan shalat, ibadah, hidup, dan mati untuk Alloh, Rab semesta alam.
Loyalitas total akan tetap membekas dalam kehidupan sehari-hari untuk menggapai sebuah kesuksesan. Kesuksesan yang dipersembahkan untuk Alloh SWT. Kesuksesan yang menjadikan ia lebih dekat kepadaNya dan yang menjdaikan ia lebih mulia dihadapanNya.

‘Meng-Iftitah’ Hidup
Betapa indahnya hidup ini jika tiap pribadi memiliki kepribadian komitmen, kepribadian yang didapatkan dari iftitah. Tidak akan ada orang yang merasa tersakiti, tidak akan orang yang merasa dicurangi, dan tidak ada orang yang merasa dibohongi. Karena setiap pribadi melakukan apa yang ia katakan, menepati apa yang ia janjikan. Ia tidak mengenal dalih dan alasan untuk tidak mengerjakan apa yang telah menjadi perkataan dan pernyataannya. Dan dilakukan dengan cara yang benar.
Ada pelajaran berharga dari komitmen, ia mengjari kita untuk mempelajari diri. Berikut 4 pelajaran tentang diri yang diperoleh dari komitmen:
1. Ia Pelajaran Tentang Mengenal Diri
Mengenal diri membutuhkan pemahaman utuh tentang diri. Ia mengetahui kemampuan dan kelebihan yang dimiliki, juga menyadari kekurangan yang ada pada dirinya. Pemahaman utuh tentang diri menuntun seseorang untuk mengambil keputusan dan tindakan dengan baik, ia tidak mengambil dengan serampangan, tetapi dengan pertimbangan matang. Keputusan yang diambil menjadi komitmen bagi dirinya untuk diwujudkan. Keputusan yang ia berani mempertanggungjawabkan segala bentuk konsekuensinya.
2. Ia Pelajaran Tentang Mandiri
Keputusan yang diambil akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Ia tidak melemparkan tanggung jawab ke orang lain. Ia mengerahkan segala potensi yang dimiliki untuk mengerjakan apa yang telah ia katakan, ia menepati apa yang telah ia janjikan. Ia sadar tanggung jawab ini harus dipikul bagaimanapun kondisinya. Ia bukan pengecut yang melempar dengan sembunyi tangan . Ia melempar dengan tangan tetap di depan, ia menunjuk diri bukan orang lain. Ia berani menghadapi bukannya lari. Ia menghadapi dan menjalani dengan sepenuh hati. Itulah orang mandiri.
3. Ia Pelajaran Tentang Tahu Diri
Orang sering mengatakan, “Kamu tidak tahu diri!”, sebagai ungkapan kekesalan kepada orang lain jika ia merasa tidak dipahami orang itu. Tahu diri adalah mengetahui perasan orang lain dengan bercermin kepada diri sendiri. Guru saya menyebutnya dengan ‘Golden Behavior’. Tidak menyakiti jika tidak mau disakiti, tidak mencaci maki jika kita marah kalau dicaci maki, tidak membohongi jika kita tidak mau dibohongi, dan seterusnya. Disini hati nurani yang berbicara, menganggap orang lain seperti kita, memikirkan orang lain seperti memikirkan kita, dan mencintai orang lain seperti mencintai diri kita sendiri.
4. Ia Pelajaran tentang Citra Diri
Orang memilki komitmen tinggi memahami bahwa ia sedang berurusan dengan citra diri. Orang mengenal kita dari perilaku-perilaku kita. Orang menilai baik jika yang kita lakukan baik kepada mereka. Begitu sebaliknya orang akan menilai buruk jika kita berlaku buruk terhadap mereka. Hukum alam aksi reaksi maupun tabur tuai berlaku disini. Menanam kebaikan akan dibalas dengan kebaikan dan sebaliknya. Orang berkomitmen tinggi memunculkan citra diri yang baik di mata orang lain. Meski orang beriman tidak melakukannya tidak untuk itu, namun semata-mata untuk mendapatkan ridho dari Alloh. Citra diri yang baik sebagai efek yang tidak bisa dihindarkan dari seseorang yang memiliki komitmen baik, begitu sunnatullohnya. Ia akan dipedulikan, disukai, dan dihormati dalam masyarakat.
Sungguh beruntung orang-orang yang mendapatkan pelajaran komitmen ini dari iftitah. Ia tidak hanya berbayar dengan surga, di duniapun ia telah mendapatkan imbalannya. Ia menjadi pribadi yang dicintai, ia menjadi pribadi yang dihormati dan ia menjadi pribadi yang memilki citra diri tinggi.
Luar biasa Alloh membelajarkan kita dalam sholat. Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa mengambil pelajaran dari sholat ini dan menggunakannya untuk menggapai kesuksesan menuju Alloh. Semoga kita mendapatkan pelajaran tentang komitmen dari iftitah dan menerapakannya dalam kehidupan sehari-hari, Semoga!


  Salman

"Semangat :: Semilir Angin Manfaat!"

Blog sederhana..., namun dengan penuh harap semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Silahkan beri komentar, masukan, saran, maupun kritik demi perbaikan kualitas Blog ini. Terima kasih.
~:: Salman ar-Raisy ::~

blog-indonesia.com Indonesian Muslim Blogger KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia