Fujur dan Taqwa
Oleh:Salman ar-Raisy
(QS. Asy Syams [91]: 8-10)
Dua jalan fujur (fasyik) dan taqwa, inilah pilihan kita untuk mendekat kepada Allah atau tersesat menjauhi-Nya.
Taqwa memiliki pengertian menjalankan segala perintah allah serta menjauhi segala larangan-Nya. Sedang fasik memiliki pengertian (mengambil tulisan Haji Eric, pada http://hajieric.multiply.com/journal/item/14), dikatakan bahwa, Apabila kita membuka Kamus Bahasa Indonesia yang dikarang oleh S. Wojowasito, maka kata fasik diartikan sebagai tidak sungguh-sungguh menjalankan agamanya. Sehingga orang fasik dapat dimaksudkan sebagai orang yang tidak bersungguh-sungguh dalam menjalankan agamanya, dan bila ia beragama Islam maka keislamannya hanyalah simbol belaka.
Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan siapa yang digolongkan sebagai orang fasik (faasiqiin) dalam Al-Qur’an di surah Al-Baqarah (2) ayat 27,
Alladziina yanqudhuuna ‘ahdallaahi mim ba’di miitsaaqihi, wa yaqtha’uuna maa amarallaahu bihii ay-yuushala wa yufsiduuna fil ardhi, ulaa-ika humul khaasiruun.
"(Yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu ditetapkan dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi."
Jalan takwalah yang akan mendekatkan kita kepada Allah SWT. Sedang jalan fasik adalah jalan yang menyesatkan kita sehingga tidak bertemu dengan Allah, tersesat sejauh-jauhnya.
Jalan takwa adalah jalan yang lurus (sirath). Sirath dalam bahasa arab dimaknai sebagai jalan yang luas dan lurus.
Ihdinas shirathal mustaqim….
Pada jalan luas dan lurus itu masing-masing manusia melaluinya dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang dengan berlari, berjalan, atau merangkak.
Pilihan terbaik adalah kita mamapu melaluinya dengan cara paling cepat. Cara tercepat akan kita dapatkan ketika kita memberikan yang terbaik terhadap apa yang kita punya di jalan takwa.
Abu bakar menyerahkan seluruh kekayaannya untuk dipergunakan di jalan takwa ini. Bilal harus mengalami siksaan badannya ditindih dengan batu demi mempertahankan Allah dari hatinya. Ali rela menggantikan berada di tempat tidur Rasulullah ketika beliau berangkat hijrah, meski harus menghadapi resiko terbunuh. Juga banyak kisah para sahabat yang dengan luar biasa memeberikan apa yang dia punya untuk memperjuangkan jalan takwa.
Jika saat ada sebagian golongan yang mengerahkan daya upaya untuk memenangkan jalan fasik, masihkah kita rela berdiam diri tak mau bergerak, terbuai dengan angan-angan, atau dimanja aktivitas sia-sia. Tanpa kita mengusahakan jalan takwa.



Terimakasih informasinya.
Seharusnya tidak ada lagi Umat Islam yang berpangku tangan, ketika para penjaja maksiat telah bertindak door to door.
Untuk share silahkan klik “Sosiologi Dakwah” di http://sosiologidakwah.blogspot.com
Comment by Aristiono Nugroho — 23 August, 2008 @ 4:30 pm
that right…..goooooooood!!!
Comment by acu saepudin — 29 October, 2008 @ 11:55 am
terimaksih tas infonya saya baca yng kesekian kalinya untuk mengingatkan kepada kit bahwa manusia harus tetap bepegang teguh pda ajarannya
Comment by acu saepudin — 17 April, 2009 @ 11:36 pm