Belajar dari Satu Mulut Dua Tangan
(QS. Al Anfaal (8): 23)
Puji syukur kehadirat Alloh SWT yang membekalkan satu mulut dan dua telinga kepada kita agar kita belajar darinya. Shalawat salam semoga tercurah kepada Nabi besar Muhammad SAW yang menjadi teladan bagaimana mengunakan mulut dan telinga itu dengan benar dan sebaik-baiknya.
Siapa yang tidak tahu Kera Sakti? Didalam kisahnya, bagaimana dia dilahirkan? Ia berasal dari batu bukan? Anda percaya? Sayapun tidak. Karena manusia -nyatanya- dilahirkan oleh seorang ibu. Berproses dari perjuangan, pertemuan, penyatuan, pertumbuhkembangan, dan akhirnya keluarlah seorang baayi. Inilah yang akan saya ceritakan kepada Anda.
Bagaimana dan apa yang harus kita lakukan (seandainya jadi seorang ayah) ketika bayi (anak kita) lahir? Islam mengajarkan untuk memperdengarkan adzan di telinga kanan dan mengiqomatkan di telinga kiri. Kenapa demikian? Ternyata telinga adalah organ yang berfungsi paling baik saat lahir, bahkan sebelum dilahirkan. Banyak ahli merekomendasikan bayi yang berada dalam kandungan diperdengarkan musik musik-musik klasik seperti Mozart dan Bethoven karena dipercaya bayi sudah bisa mendengarkan dan musik itu mempunyai efek mencerdaskan.
Maka dari sanalah (dari kelahira) kita belajar. Bahwa pelajaran pertama kita adalah mendengarkan. Ini adalah pelajaran yang kadang sulit kita lakukan sekarang ini. Kita lebih senang ngomong dibandingkan mendengarkan. Tidak ada yang salah dengan berbicara. Lalu buat apa kita diberikan mulut jika bukan untuk berbicara. Yang salah adalah tanpa mengimbangi komunikasi lisan dengan kemampuan untuk mendengaarkan. Banyak menyampaikan, banyak menuntut tapi tidak mendengarkan tuntutan orang lain terhadap kita, ini yang salah.
Jumlah telinga -ada- dua dan mulut -hanya- satu mengajarkan kita bahwa seharusnya kita lebih banyak mendengar dibandingkan dengan berbicara. Berbicara cenderung dekat kepada ‘menuntut’ dan mendengarkan adalah yang dituntut. Maka orang lebih pinter ‘menuntut’ daripada dituntut, karena menuntut tidak mengandung sebuah konsekuensi tindakan yang harus dilakukan sedangkan dituntut harus melakukan apa yang dituntutkan. Harusnya tidak demikian kita memaknainya. Mari kita belajar dari Gandhi bagaimana seharusnya menuntut. Pada suatu hari, seorang ibu membawa anaknya yang masih kecil menemui Mahatma Gandhi. Kepada Gandhi ibu ini mengeluh, “Anak saya tidak mau berhenti makan permen, saya takut itu merusak giginya.” Sambil tersenyum Gandhi berkata, Kembalilah kesini satu minggu lagi dan saya akan katakan apa yang perlu ibu lakukan.
Seminggu kemudian si ibu kembali menemui Gandhi. Melihat wanita ini datang Gandhi kembali tersenyum. Sambil membelai bahu si anak, Gandhi berkata dengan lembut, “Nak, mulai sekarang berhentilah makan permen. Itu akan merusak gigimu.” Si anakpun berjanji tidak akan makan permen lagi. Sebelum bermamitan si Ibu masih penasaran,”Tuan Gandhi, kenapa kalau hanya mengatakan demikian, Anda tidak mengatakan hal itu seminggu yang lalu. Kenapa waktu itu Anda menyuruh saya pulang begitu saja. Gandhi yang bijak tertawa kecil dan berkata,” Maafkan saya, Ibu. Telah merepotkan Ibu. Tapi sejujurnya, minggu yang lalu saya tidak bisa menyuruh anak ibu berhenti makan permen.” Si Ibu bertambah penasaran. “Kenapa, Tuan?” Tanyanya. “Begini Bu, karena seminggu yang lalu saya sendiri masih makan permen”, jawab Gandhi.
Begitulah harusnya. Melakukan sesuatu sebaik mungkin, baru menuntut orang lain melakukan yang terbaik. Tapi ‘Gandhi’ bukanlah sebuah sabuah ‘patokan’ yang saklek. Artinya jika ada sesuatu kebaikan dan itu harus disampaikan, langkah terbaik adalah menyampaikan. Jika ternyata kita masih ‘kurang’ pada apa yang kita sampaikan itu, inilah yang harusnya justru menjadikan moment kita berpretensi (berketetapan hati) untuk melengkapinya.
Merasa Jurusan kurang aspiratif terhadap mahasiswa, kurang sungguh-sungguh ‘membelajarkan’ mahasiswa, mari kita evaluasi bagaimana belajar kita. Pihak jurusanpun harusnya juga demikian, menginginkan mahasiswa berprestasi tinggi tapi minim dalam memfasilitasi, mengajar sambil nyambi dan sebagainya. Yang tahu tentu masing-masing. Semoga forum ini menjadi koreksi dan evaluasi bagi kita masing-masing, menuntut diri bukan menuntut orang lain. Menyampaikan bukan sebagai bentuk tuntutan tapi dalam rangka saling mengingatkan. Kita percaya bahwa fitrah kita semua senantiasa menginginkan kebaikan dan perbaikan.
Maka menyampaikan pesan, mari kita niatkan untuk menyampaikan kebaikan itu. Saling menasehati dalam kebaikan, kebenaran dan taqwa (semoga), karena kita memiliki potensi lupa. Mahasiswa sering lupa, ‘Jurusan’pun kadang lupa. Menjadi yang dipimpin kadangkala lupa menjadi pemimpin bisa saja lupa. Tidak selamanya benar, bisa saja salah. Tidak ingaatkah ketika Nabi Muhammad Memerintahkan, "Jangan kuasai sumber air, biar tentara musuh tidak kehausan", saat perang Badar. Maka Sahabat nabi mengingatkan, "Ya Rasul, apa yang Engkau sampaikan ini wahyu atau bukan? Jika bukan, sebaiknya kita kuasai sumber air." "Ini bukan wahyu", Rasululloh menjawabnya. Rasululloh kemudian meng-iya-kan apa yang disampaikan sahabat. Seperti inilah harusnya seorang pemimpin. Mengatakan salah bukan berarti rendah. Tetap berpegangteguh pada yang benar siapapun itu yang menyampaikan. Tidak melihat ’siapa’ tapi melihat pada ‘apa’ yang disampaikannya. Yang dipikirkan bukanlah kemenangan pribadi tapi kemenangan dan kebaikan bersama. Semoga bisa mengawali agar apa yang kita sampaikan pada dialog ini bukanlah dialog antara mulut dengan mulut. Tetapi dialog mulut, telinga, pikiran, hati dan kemudian dikuti tindakan. Seperti yang disampaikan dalam ‘pesan’, tidak diletakkan telinga didepan agar pesaan yang disampaikan tidak -langsung- mental (berbalik), menjadi sekedar adu omongan. Diletakkan disamping bukan dibelakang agar tetap terdengaar, agar diendapkan, dipikirkan dan direnungkan. Apa yang menjadi jawaban adalah keluar dari kesadaran, baik yang harus ditanggapi secara lisan, berupa tulisan atau bahkan yang harus dilakukan dengan tindakan.
27 April 2007


