12 April, 2007

Menjadi Pribadi 360 derajat

Terinspirasi oleh seorang teman, yang mengatakan bahwa dengan sholat kita melakukan perputaran 360 derajat, maka saya sharingkan tulisan ini untuk Anda. Ketika kita mendirikan sholat maka akan dihasilkan sudut-sudut ‘mengagumkan’. Saya menamain sudut-sudut itu sebagai sudut-sudut kesuksesan, karena saya menemukan keistimewaan dari sudut-sudut ini untuk meraih kesuksesan. Dan Alloh menyampaikan pesan keistimewaan ini dalam Sholat. Berapa saja sudut-sudut itu?

Yang pertama adalah sudut 180 derajat. Sudut 180 derajat menggambarkan sebuah garis yang lurus. Sudut ini terbentuk ketika berdiri dalam sholat. Saya memaknai kelurusan itu adalah kelurusan dalam niat dan cara atau jalan, seperti yang sudah dibahas pada Bab tentang niat.

Yang kedua adalah sudut 90 derajat. Pertemuan antara dua garis yang tegak lurus sempurna. Kesempurnaan sudut 90 derajat pada ruku’ ini ditunjukkan bahwa Rasulullah ketika sholat punggungnya rata, jika diatasnya ditaaruh segelas air maka air itu tidak aan tumpah. Pertemuan dua garis yang sempurna ini menjadian posisi yang kuat, sehingga banyak arsitek atau ahli bangunan membangun sudut ruang dengan sudut 90 derajat. Sudut ini juga akan kita temui pada kebanyakan sudut pintu dan jendela. Inilah posisi yang kokoh dan kuat.

Yang Ketiga adalah sudut 45 derajat. Sudut ini dihasilkan ketika seseorang sedang berada dalam posisi sujud. Pelajaran Matematika yang masih saya ingat, mungkin mereka yang mendalami matematika pasti lebih paham dari pada saya. Atlet lempar lembing dan tolak peluru juga pasti mengenal lebih baik tentang hal ini. Apa itu? Yaitu gerak parabola. Ternyata sudut 45 derajat adalah sudut yang menghasilkan lemparan paling jauh dibandingkan sudut-sudut lain pada usaha yang sama. Saya mengatakan sudut 45 derajat ini sudut yang berenergi.

Ketiga sudut ini kita dapatkan secara berulang pada sholat kita. Dalam satu rekaat gerakan sholat menghasilkan sudut 360 derajat, yaitu dari perhitungan 180 derajat + 90 derajat + (2 x 45 derajat). Bagaimana dengan I’tidal dan duduk diantara dua sujud? Jika disertakan dalam perhitunganpun akan menghasilkan harga yang sama, yaitu 360 derajat. I’tidal digambarkan sebagai sudut 180 derajat dan duduk diantara dua sujud digambarkan sebagai bentuk sudut 90 derajat dilakukan sebanyak dua kali (termasuk duduk ketika hendak berdiri) pada setiap rekaat. Perhitungannya yaitu 180 derajat + (2 x 90 derajat) atau sama dengan 360 derajat. Maka jika i’tidal dan duduk diantara dua sujud diikutsertakan akan menghasilak perputaran penuh seanyak dua kali atau 2 x 360 derajat.

Jadi sholat adalah sinergi dari sudut-sudut yang memiliki keistimewaan-keistimewaan itu. Ia (sholat) adalah sinergi dari kelurusan niat dan cara, kekuatan ataupun keteguhan (adversity quotient) yang tinggi, serta memiliki energi besar untuk melakukan. Sinergi ini akan menghasilkan 360 derajat yang merupakan bentuk keutuhan dan kesempurnaan putaran. Kesempurnaan ini akan menginspirasi pada kesempurnaan kepribadian. Karena kita (manusia) adalah pribadi yang diciptakan sempurna.

Untuk menjadikan kita sempurna kita harus mengikuti hukum kesempurnaan itu. Kita harus berputar 360 derajat, yaitu dengan sholat. Sholat ibarat sebuah bangunan yaitu bangunan kesempurnaan, dengan mendirikan sholat kita akan menghasilkan bangunan kesempurnaan itu, bangunan 360 derajat, inilah pribadi yang utuh.

Perputaran ‘kesempurnaan’ itu harus senantiasa terjadi seperti perputaran rotasi dan revollusi bumi serta benda-benda langit yang lain. Perputaran itu harus berulang dan berulang dari titik awal dan kembali ke titik awal lagi. Seperti kehidupan kita, diciptakan oleh Alloh maka kembalinya pasti kepada Alloh, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Dan ingatlah bahwa 360 derajat bernilai sama dengan sudut 0 derajat. karena sesungguhnya 360 derajat adalah 0 derajat, dan 0 derajat adalah 360 derajat itu sendiri. Menyadari dan melakukan perputaran penuh akan membentuk pribadi 360 derajat atau pribadi zero –pribadi bilangan ‘nol’–. Zero mind adalah cara berfikir paling hebat yang diakui saat ini, maka pribadi zero adalah pribadi dahsyat yang akan terbentuk dengan sholat.

Mari kita pelajari keistimewaan zero (bilangan nol) ini. Apa keistimewaan dari bilangan nol? Keistimewaannya ada pada sifat kehampaan (ketiadaan) dirinya.
• Semua yang dikalikan dengan nol akan menjadi nol
• Semua yang ditambah nol akan menjadi dirinya sendiri
• Semua yang ditambahkan nol di belakangnya akan menjadi 10 kali lipat dari nilai awalnya

Menjadi pribadi bilangan nol adalah menjadi pribadi unik dengan sifat nol, yaitu :
• Ketika ada sesuatu yang bertentangan dengan dirinya, maka semua tentangan itu lenyap kalah oleh pribadi bilangan nol.
• Ketika ada sesuatu yang bersahabat dengannya, maka sesuatu itu eksis karena didukung oleh pribadi bilangan nol.
• Kalau sesuatu itu bersinergi dengan pribadi bilangan nol, maka dia menjadi 10 kali lipat lebih hebat.
Perputaran itu menyebabkan keseimbangan pada hidup kita seperti keseimbangan yang dihasilkan oleh rotasi bumi, kita harus mengalami siang dan malam. Bagi kita bekerja dan beristirahat, seimbang baik fisik, spiritual, intelektual, maupun sosial. Itulah keseimbangan.

Bilangan nol juga menunjukkan sebuah keseimbangan. Dalam pelajaran fisika, jika sebuah benda dengan resultan gaya nol dapat dinyatakan berada dalam posisi seimbang. Dalam pelajaran matematika, jika kita memperhatikan koordinat cartesian (ingat pelajaran di SMA), maka angka nol adalah pembatas antara koordinat positif dan negatif. Angka nol sendiri tidak dikategorikan sebagai bilangan positif maupun negatif.

Keseimbangan antara positif dan negatif bukan berarti antara yang benar dan salah, bukan antara yang baik dan buruk, bukan pula antara yang boleh dan tidak. Jika melakukan kebaikan harus diimbangi dengan keburukan, adalah pandangan yang keliru. Nilai positif dan negatif pada koordinat tidak bermakna baik dan buruk, benar dan salah, atau antara boleh dan tidak. Nilai positif dan negatif tetap bernilai baik, karena semua mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Keseimbangan tetap harus berada dalam posisi baik, sesuai dengan fitrah manusia. Keseimbangannya yaitu antara bekerja dan beristirahat, antara memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani, antara makan dan puasa, antara berbicara dan mendengar dan sebagainya. Kejahatan dan keburukan tidak berada koordinat positif maupun negatif. Ia berada diluar koordinat, ia berada di luar orbit. Ia tidak layak untuk dikategorikan dalam nilai plus dan minus –dalam sudut pandang ini–.

Pribadi yang terbentuk dari sholat adalah pribadi yang utuh, pribadi 360 derajat, pribadi senantiasa mengerjakan amal kebaikan dan tercegah dari perbuatan keji dan munkar. tanha anil fahsya’i wal munkar. Bukan itu saja, tapi juga pribadi yang ditandai dengan kerja professional. Rasululloh menjadi khudwah hasanah dalam menggapai muslim professional. Menurut Ust. Pahrol dan Ust. Hasrizal (Malaysia) ada dua kriteria muslim professional seperti yang dicontohkan Nabi, yaitu:

1. Al-Amin (terpercaya) yang berkait dengan akhlaq yaitu menjalankan amanah dengan baik, kejujuran, dan integritas. Ia meyakini bahwa ada kehidupan setelah kehidupan, Ia meyakini adanya akhirat, ia memiliki sense of the end.

2. Al-Qowi (kuat), hal ini terkait dengan kemampuan dan kompetensi. Ia memiliki ilmu yang mendalam, memiliki life skill, soft skill, juga interpersonal skill.

Nabi Muhamad adalah contoh mukmin professional yang menyeluruh (holistic) dalam kehidupannya. Keprofessionalan beliau kita temukan dalam berbagai hal, misalnya:

1. Dalam kepemimpinan, beliau menjadi pemimpin yang mampu meratakan keadilan. Beliau pernah menjadi pengembala kambing dan pedagang yang bekerja pada orang lain (Khadijah), menjadikan beliau begitu memahami yang dipimpinnya. Beliau pernah hidup dalam keadaan miskin, juga pernah hidup dalam keadaan kaya. Beliaulah contoh yang baik bagaimana harus bersabar dan bersyukur. Beliau memahami bagaimana harus bertutur kata, menggunakan bahasa tubuh (body language), menerapkan pandangan mata (eyes contact), tahu bagaimana berinteraksi secara personal maupun dihadapan banyak orang, bisa menjadikan semua merasa dilebihkan.

2. Dalam perdagangan, beliau memjadi pemimpin rombongan, jelas ini keprofessionalan dalam kepemimpinan, beliau memiliki kemampuan interpersonal yang baik, mampu mengkaji harus menggunakan kendaraan apa antara Mekkah dan Syam, memperkirakan musim, dan pasar, barang apa yang harus dibawa agar laku di sana. Beliau mempelajari arakteristik orang Syam, hingga beliau menjual barang dengan menunjukkan harga asal dari Mekkah. Beliau mempersilahkan orang mengambil dengan memberikan keuntungan yang pantas berdasarkan perjalanan, waktu dan tenaga yang digunakan dari Mekkah menuju Syam. Keuntungan luar biasa didapatkan.

Saya punya pengalaman menarik dengan hal ini. Saya menawarkan reparasi komputer dengan menempel leaflet di papan-papan pengumuman kampus dan daerah sekitar kost. Untuk hal-hal sederhana saya bisa mengerjakannya sendiri. Pada suatu kali ternyata saya tidak bisa memperbaikinya sendiri. Terpaksa harus saya bawa ketempat kenalan saya. Sayangnya harus memakan waktu cukup lama, sedang orang yang memiliki membutuhkan dalam waktu segera. Karena merasa tidak enak saya menyampaikan harga yang sebenarnya dari kenalan saya dengan maksud agar yang diberikan kepada saya sekedar ongkos mengantar. Ternyata perkiraan saya meleset, yang diberikan malah jauh lebih besar dibandingkan dengan keuntungan yang saya tetapkan pada konsumen-konsumen lain.

3. Dalam strategi Perang, beliau menunjukkan kecemerlangan dalam perang Badar dengan menguasai sumber air. Pada saat perang Khandaq dengan strategi membuat parit-parit pertahanan. Begitu juga pada perang Uhud beliau memerintahkan menempati pada posisi yang tinggi.

[Sebagian tulisan yang Insya Alloh akan disisipkan dalam buku “Sholat, Sekolah Kesuksesan Terhebat”].

Bagaimana dengan kita, sudahkah kita merengkuh kesempurnaan itu. Jangan-jangan kadang kita ‘berputar’, kadang-kadang kita berhenti. Jangan-jangan kita sholat, kadang-kadang tidak. Bagaimana sholat bisa menginspirasi jika kita tidak melakukannya. Bagaimana kita mendapatkan ‘bangunan’ sholat, sedang kita sendiri tidak mendirikannya. Bagaimana kita bisa mendapatkan ‘pelajaran’ dari sholat, sedang kita tidak ‘bersekolah’ dari sholat.

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al Israa’ (17): 70)

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://semangat.blogsome.com/2007/04/12/menjadi-pribadi-360-derajat/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.


  Salman

"Semangat :: Semilir Angin Manfaat!"

Blog sederhana..., namun dengan penuh harap semoga bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya. Silahkan beri komentar, masukan, saran, maupun kritik demi perbaikan kualitas Blog ini. Terima kasih.
~:: Salman ar-Raisy ::~

blog-indonesia.com Indonesian Muslim Blogger KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia