¤ I CAN Institute ¤


Saya Dicap “Orang Gila”

16 February, 2007

Entrepreneur itu pemberani, meski belum tentu pandai. Orang pandai itu justru belum tentu berani melakukan bisnis.

Dalam acara pemberian penghargaan terhadap Lembaga Bimbingan Belajar Primagama oleh Museum Rekor Indonesia (MURI), saya benar-benar "digarap" oleh rekan saya yang juga Direktur MURI, Jaya Suprana.

Dalam acara yang diselenggarakan pada hari Jumat 2 Juli 1999 yang lalu, saya dicap sebagai "orang gila" oleh Jaya Suprana. "Betapa tidak", kata Pak Jaya, "Usaha yang dibuka Pak Purdi saya nilai sebagai usaha edan-edanan. Pak Purdi memang demikian "gila" berani membuka usaha yang saya nilai sebagai industri bimbingan belajar terbesar di Indonesia", tutur pakar kelirumologi tersebut. Lebih lanjut dikatakan "Karena itulah, saya rela menyerahkan sendiri sertifikat MURI ini kepada pak Purdi. Padahal, saya sebenarnya sudah janjian dengan Presiden Habibie. Tapi karena ada acara ini, acara di Bina Graha saya batalkan," demikian kelakar Boss Jamu Jago itu.

Yah begirulah Pak Jaya. Bahkan, saya juga dibilang "gila" , karena begitu cepat dalam mengembangkan bisnis pendidikan ini. Dan memang, pada usia 18 tahun pada 10 Maret 2000 yang lalu, Primagama telah berkembang lagi, dengan memiliki 181 cabang di 96 kota yang tersebar di 16 propinsi.

"Saya salut sama Pak Purdi. Sebagai seorang wirausahawan, ia selalu melakukan hal-hal yang tidak rasional dan terlalu berani. Tidak punya modal cukup, berani buka usaha. Terlalu optimis terhadap ide-ide rencana usahanya, dan mengambil risiko adalah pekerjaan biasa," demikian kata Pak Jaya lagi dalam kesempatan pidatonya. Entrepreneur lain yang disebut Pak Jaya adalah Tirto Utomo, yang rupanya lebih gila lagi. Tirto Utomo bisa menjual air (aqua) lebih mahal dari bensin. Dan bisnis Tirto pun saat ini juga berkembang sangat pesat.

Jaya Suprana mengatakan begitu, karena memang faktanya demikian. Banyak usaha yang dimulai dari ide-ide gila, dan keberanian yang luar biasa. Bagi orang awam, perilaku wirausaha memang terasa aneh dan sulit dicerna. Tetapi bila dilihat dari sisi motivasi, mereka memang orang-orang yang memiliki motivasi yang tinggi (high achiever) dalam meraih sesuatu. Tak lekang karena panas, tak lapuk karena "hujatan". Padahal, belum tentu memiliki kepandaian dan ketrampilan yang memadai untuk memulai usahanya.

Entrepreneur itu adalah pemberani, walaupun belum tentu ia orang pandai. Orang pandai justru belum tentu berani. Hal ini mungkin karena terlalu berhitung. Banyak wirausaha yang lahir bukan karena pandai, tetapi karena berani. Berani memulai usahanya. Berani meraih peluang. Tidak pernah takut.

Menurut Marianne Williamson, ketakutan kita yang paling mendalam bukan karena kurang memadai. Ketakutan yang paling mendalam adalah karena kita terlalu kuat. Sisi terang, bukan sisi gelap yang membuat kita takut. Dari kalimat tersebut dapatlah diambil kesimpulan, bahwa makin tahu banyak hal, maka makin membuat orang takut mencoba. Sehingga teman saya yang seorang akuntan, dan ingin berwirausaha, ia akan selalu menghitung feasibility-nya dan tidak pernah memulai usahanya. Sementara, peluang yang sama telah direbut orang lain.

Saya tidak menyarankan untuk tidak menghitung rencana usaha Anda. Tetapi, keberanian untuk memulai nampaknya harus didahulukan. Ada teman saya yang ingin membuka usaha retail atau warung kelontong. Yang dia hitung dan bayangkan, adalah akan membutuhkan modal yang banyak, tempat yang bagus, dan bayangan yang serba menakutkan. Dan, pada saat bertemu dengan saya, dia saya sarankan membuka retail-nya dulu, baru berpikir kemudian. Ternyata betul juga, begitu retail-nya dibuka, banyak orang yang menitipkan barang (konsinyasi), dimana sebelumnya hal tersebutak pernah dipikirkan. Kemudian ada petugas bank yang menawarkan pinjaman uang untuk meningkatkan modal. Dan,banyak kesempatan yang datang silih berganti, yang tidak pernah diduga sebelumnya.

Keberanian seorang entrepreneur untuk berwirausaha itu sama dengan keberanian menghadapi risiko. Kalau dengan negative thinking, risiko sama dengan bahaya. Tetapi kalau dengan positive thinking, maka risiko itu sama dengan rejeki. Resiko kecil yang didapat pun kecil. Contohnya, seorang tukang cuci piring, risikonya hanya memecahkan piring, maka penghasilannya pun kecil. Yang berisiko besar, penghasilannya pun akan besar. Sehingga, seberapa besar rejeki yang diinginkan, sama dengan seberapa besar Anda berani mengambil risiko.

    

Terima kasih atas kunjungannya. Semoga bermanfaat. Jangan lupa berkunjung lagi ya, untuk mendapatkan update artikel terbaru.