Memaknai Waktu
Secara umum waktu dibagi menjadi dalam tiga dimensi; masa lalu, masa kini (sekarang), dan masa akan datang. Diantara ketiga waktu itu yang paling penting adalah masa kini. Kenapa masa kini? Karena masa lalu hanya sebuah kenangan, ia tidak dapat dikembalikan. Apapun yang Anda lakukan pada masa lalu, Anda harus pasrah menerimanya. Jika pada masa lalu Anda melakukan kesalahan yang tak terampuni, kekeliruan yang sangat besar, Anda tidak bisa kembali lagi pada masa itu untuk memperbaikinya. Sekali lagi masa lalu adalah kenangan sekaligus pelajaran bagi kita.
Untuk memperbaikinya kita harus menggunakan saat ini untuk meminta maaf (mungkin), tidak akan mengulanginya lagi dan menjadikan itu sebagai peringatan untuk berbuat lebih baik lagi.
Kenapa bukan masa depan yang penting? Masa depan belum terjadi. Kita hanya mampu mereka-reka masa depan kita seperti apa nantinya. Bagaimana nasib Anda di masa mendatang akan sangat tergantung pada pilihan-pilihan yang Anda lakukan pada saat ini. Sebagaimana nasib anda sekarang ini adalah hasil pilihan-pilihan masa lalu Anda.
Jadi jangan menyesali yang sudah terjadi. Bagi mereka yang mengetahui, semua pasti ada hikmahnya. Perbaiki sekarang juga, tidak ada lagi waktu untuk menunda-nunda. Kita jelang masa depan lebih terang.
Seorang ahli hikmah pernah mengatakan, problem manusia saat ini adalah tidak tahu kapan mereka mati. Seandanya saja kita tahu kapan mati, kita tidak akan pernah menyia-nyiakan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna. Bagi orang yang berilmu, misteri waktu malah menjadi pelajaran, karena dari sanalah Alloh menilai ketaqwaan seseorang. Mana diantara hambanya yang paling baik amal sholehnya.
Jika saat ini kita memiliki keinginan dan kesempatan untuk berubah maka berubahlah. Sekarang, jangan tunda lagi.
Teori Waktu
Investasi luar biasa jika kita bisa menghargai hidup dan waktu kita. Kita akan senantiasa bertumbuh ketika sudah memahami esensi waktu yang sebenarnya.
Ada banyak teori yang memaknai apa sebenarnya waktu itu. Berikut dikutipkan beberapa diantaranya.
1. Waktu itu terus berputar
Maksud pernyataan ini adalah waktu senantiasa bergerak berputar. Meskipun tidak dimaksudkan terjadinya pengulangan waktu, namun kalimat itu jika dipahami mentah-mentah maka akan diperoleh waktu yang senantiasa terulang. Jika saat ini pukul 16.00 akan terjadi hal yang sama pada besok sore. Jika hari ini adalah Selasa, minggu depan kita akan menemui hari yang sama. Semoga kita tidak terlena dengan pernyatan yang seperti ini.
Waktu yang kita miliki jika mau menyadari adalah waktu yang sangat spesial untuk kita. Setiap detik begitu berharga bagi kita. Kita tidak akan pernah menemui detik yang sama terulang dalam hidup kita. Mungkin detiknya sama, namun menitnya berbeda, jika menitnya sama jamnya mungkin berbeda. Jika terjadi jam yang sama, harinya bisa saja berbeda. Seandainya harinya sama minggunya, bulannya yang berbeda. Kalaupun detik, menit, jam, hari, minggu, bulannya sama tidak akan mungkin kita akan ketemu tahun yang sama. Itu kenapa saya mengatakan setiap detik begitu spesial untuk kita.
2. Waktu itu berjalan seperti garis linear
Waktu tidak akan pernah bisa berhenti. Tidak akan ada yang menghentikan waktu kecuali Dia yang membuat. Kita sadar waktu akan terus berjalan ketika kita pikirkan, tanpa kita pikirkan, ketika kita beraktivitas, ketika kita berleha-leha, ketika kita bangun ataupun tidur. Waktu akan tetap berjalan.
Pergantian hari akan menutup hari sebelumnya, pergantian bulan akan meninggalkan bulan sebelumnya, begitu pula dengan pergantian tahun. Tahun sebelumnya menjadi tertutup dan tidak bisa kita masuki kembali. Sang waktu tidak akan pernah menengok apalagi berbalik kembali. Inilah makna dari waktu berjalan bagai garis linear.
Namun pandangan bahwa waktu terus berjalan dengan ataupun tanpa keikutsertaan kita, kadang menjadikan kita terlena dengan waktu. Kita bisa dengan seenaknya memberlakukan waktu. Lalu bagaimana kita memaknai waktu dengan benar? Benar salahnya bukan dari teori tetapi bagaimana kita menggunakan waktu itu. Mari kita renungkan teori yang ketiga.
3. Waktu sebenarnya bukanlah waktu
Jangan tertawa membaca pernyataan ini. Harusnya kita menagis jika mengetahui apa maksudnya. Perhatikan apa yang saya sampaikan berikut ini. Waktu yang kita miliki dihitung dengan perhitungan tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit dan detik.
Perhitungan tahun tampaknya tidak terlalu pengaruh dengan diri kita. Kenapa?, karena waktunya sangat lama. Kita turunkan ke perhitungan, bulan, minggu, hari, menit, hingga detik. Apa yang kita rasakan dengan detik, bergerak begitu cepat kan?. Sekarang ikuti apa yang saya sampaikan. Pegang dada Anda. Rasakan detak jantung Anda. Hitung berapa kali jantung Anda berdetak dalam 1 detik. Jika saya rata-ratakan dalam 1 detik jantung kita berdenyut sebanyak satu kali. Kita menggunakan detik itu untuk hidup. Detik-detik itulah waktu kita. Saat jantung kita tidak mampu lagi untuk berdenyut kita sudah tidak mempunyai waktu lagi, meskipun bagi orang lain mereka masih memiliki. Perhitungan yang demikian cepat itulah waktu kita. Sudah berapa banyakkah detak-detak jantung kita kita sia-siakan untuk melakukan sesuatu yang tidak berguna. Berapa detik hidup yang kita habiskan sampai sekarang.
Mari kita menghitung. Berama umur Anda saat ini? Andaikan saat ini umur kita 24 tahun. Kita menggunakan hitungan hari saja yang menurut Anda tidak terlalu cepat dan tidak juga terlalu lama. Dalam satu bulan kita rata-ratakan 30 hari, jadi dalam satu tahun ada 30 x 12 bulan = 720 hari. Jika umur kita 24 tahun maka sudah menghabiskan 720 x 24 tahun = 17.280 hari.
Seandainya kita diberi umur hingga 70 tahun maka masih 33.120 hari. Itupun jika saat ini kita berumur 24 tahun. Andai saat ini umur kita 31 tahun, 40 tahun, atau 55 tahun berapa sisa usia yang kita miliki. Dan sadarlah bahwa 70 tahun itu hanya asumsi. Siapa yang tahu kapan kita meninggalkan dunia ini. Mungkin 50 tahun, 40 tahun 30 tahun atau bahkan besok pagi.
Mari kita sama-sama melakukan instrospeksi. Waktu yang sudah kita habiskan itu sebagian besar untuk kebaikan atau sebaliknya. Berapa waktu tidur yang sudah kita gunakan. Berapa waktu yang kita habiskan untuk menonton TV. Berapa waktu yang kita pakai untuk menggosipkan orang. Mari kita renungkan. Berubahlah, selagi ada kesempatan. Kapan lagi kalau tidak SEKARANG!
Salam Motivasi,
Mustahib Ar-Raisy![]()


