Sahabat-sahabat sekalian,
Mari kita menggali ilmu Alloh yang desebarkan disekitar kita. Sekarang kita tengok sisi termiliki oleh air. Kita belajar dari twetes-tetes air. Tetesan air dalam gua memunculkan suara alam begitu santun didengar, begitu menenangkan, begitu menyejukkan. Layaknya sifat air, lembut. Ditengah kelembutan sifat itu terpancar rahasia luar biasa darinya. Tetes-tetes air yang begitu kecil dapat membuat lubang cukup bahkan sangat dalam pada batu yang cukup keras. Lewan air yang memiliki sifat sangat berbeda 180o ternyata dapat dihancurkan (membentuk lubang padanya).

Sepertinya hal yang mustahil jika dipikir. Tapi itulah kenyataanya. Apa rahasia kesuksesan air membentuk lubang pada batu. Ia tidak meneteskan dirinya satu dua kali melihat lawannya belum berlubang kemudian menyerah. Ia melakukan ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan kali untuk membentuk lubang tersebut. Tak jemu-jemunya, tak bosan-bosannya ia meneteskan dirinya, meski jika ia bisa berfikir sangat sulit melakukan itu. Nampaknya ia optimis akan keberhasilan dengan apa yang dilakukannya. Ini yang kadang tidak dimiliki oleh manusia, optimis terhadap apa yang dilakukan. Keyakinan itulah yang menyebabkan air begitu rutin, begitu tekun menggunakan senjata dirinya yang meski begitu halus. Dari waktu-kewaktu dilakukannya.

Waktu yang diperlukan memang lama bahkan sangat lama, tapi sikap optimislah membentuk jiwa pantang menyerah. Air bahkan seperti bisa berfikir tujuan yang ingin dicapainya pasti, pasti, pasti bebhasil. Kemudian jiwa ini menimbulkan sikap tekun dalam diri menggapai tujuan yang akan dicapainya.
Pelajaran yang dapat diambil dari sifat air ini adalah ketekunan. Tidak akan berhenti sebelum tujuannya tercapai. Sulitkan?!. Memang itulah yang dibutuhkan oleh orang-orang yang menginginkan sukses. Tekun melakukan sesuatu meski kadang hanya menampakkan hasil kecil malah tidak nampak sama sekali. Terpenting adalah jangan sampai kita kehilangan tujuan awal. Tujuan yang telah kita azam-kan diawal harus senantiasa kita ikat erat dalam diri kita. Senantiasa kita visualisasikan sejelas mungkin, sejelas mungkin. Hal ikhwal visualisasi akan dibahas pada topik lain.

Tujuan diawal itulah yang akan kita capai diakhir bukan diperjalanan. Jika diperjalanan kita belum menemukan itu, banyak tantangan, hambatan berarti kita belum sampai pada tujaun sebenarnya. Jalan terus, terus dan terus. Kerinduan pada tujuan yang akan dicapai akan menumbuhkan pada diri sikap menikmati proses, seberapa pahit, seberapa getir jalan yang dilalui.

Sahabat-sahabat sekalian…… Benar, dalam perjalanan pasti akan menemui banyak hambatan, tantangan bahkan godaan. Semua harus kita selesaikan dengan arif. Godaan, sesuatu yang nampak begitu manis, menyenagkan, menawarkan sesuatu yang wah, dan sebagainya. Ini yang harus kita waspadai. Pikirkan jika itu tidak sesuai dengan tujuan awal kita harus kita singkirkan, meski tampak begitu manis apalagi jika dalam tawaran yang sangat instan.

Bukan berarti kita tidak boleh berhenti tidak boleh istirahat, tidak boleh mampir. Gunakanlah itu untuk mengisi energi kita, untuk kemudian jika kita bergerak, beraktivitas kembali kita akan lebih bersemangat, melakukat dengan ‘api’ membara.

Perubahan akan senantiasa terjadi dari waktu-ke waktu. Apakah kita harus merubah tujuan?!. Tidak!. Dalam tuntutan perubahan kita tidak boleh merubah tujuan, menurunkan target tapi malah sebaliknya. Jadikan tujuan awal sebagai batas minimal uang harus kita raih. Yang harus kita rubah dalam perubahan itu adalah cara kita, metode kita dalam menggapai tujuan. Karena orang sukses mempunyai 1001 jalan untuk sukses, tapi orang alasan mempunyai 1001 jalan untuk gagal. Penuhi 1001 jalan itu dengan ketekunan. Alloh akan memberikan imbalan setimpal dari ketekunan kita itu, Percayalah!. Tidak ada balasan yang Alloh lupa memberikannya atau tertukar dengan yang lain. Percayalah! “Fa may ya’mal misqâla zarratin khairay yarah. Wa may ya’mal misqâla zarratin syarray yarah” (QS. Az-Zalzalah : 8-9)

 

Salam Motivasi,
Mustahib Ar-Raisy