MENEBAR SALAM, MENUMBUHKAN SEMANGAT!
www.KangSalman.co.nr





Life, Dealing With A Change

20 December, 2006

Dunia ini berubah, dan secara insting manusia akan bereaksi terhadap perubahan. Perubahan adalah keharusan dan bereaksi terhadap perubahan adalah sifat dasar manusia. Dari detik ini ke detik berikutnya adalah perubahan - setidaknya perubahan dalam ukuran waktu. Hari ini tidak akan sama dengan hari esok dan seterusnya. Jika hari ini adalah Senin, besoknya tentu bukan Senin lagi. Bahkan, Senin sekarang dengan Senin yang akan datang sudah tidak akan sama lagi.

Bertahan terhadap perubahan merupakan reaksi yang normal dan dalam banyak hal amat bermanfaat. Bahwa itu instingtif, normal dan bermanfaat, dasarnya adalah fakta di mana bertahan adalah termasuk salah satu cara untuk survive. Maka, perilaku bertahan atau menolak perubahan biasanya muncul karena perubahan yang terjadi dianggap mengancam eksistensi dan keselamatan. Namun dalam banyak hal, perubahan itu sendiri ternyata lebih perlu dititi daripada dihindari. Lebih tegas lagi, perubahan memang tidak bisa dihindari.

Menyikapi perubahan adalah hal yang berat, sekalipun perubahan itu terjadi dalam rangka menuju ke arah yang lebih baik. Manusia cenderung mempertahankan apa yang telah ada pada dirinya, sekalipun ada hal lain menjanjikan sesuatu yang lebih baik, hanya karena ia dituntut untuk berubah. Bagaimanakah orang menjalani perubahan? Berikut ini kami sadurkan tulisan dari Patti Hathaway, CSP – seorang pakar leadership.

Menurutnya, ada empat fase berkaitan dengan cara orang bereaksi terhadap perubahan.

Ignore The Pain
Pertama, adalah "mengabaikan rasa sakit". Perubahan jelas memunculkan rasa sakit atau ketidakpuasan. Pada banyak kasus, orang mengabaikan efek ini dalam berhadapan dengan perubahan. Dalam kenyataannya, orang bahkan mengabaikan fakta bahwa perubahan memang sedang terjadi. Orang yang demikian biasanya akan berkomentar, “mengapa mereka melakukan ini pada saya?” atau, “hal itu tidak akan pernah terjadi”. Mereka cenderung menghindari segala informasi yang berkaitan dengan perubahan.

Feel The Pain
Kedua, adalah saat orang mulai ‘merasakan sakitnya’ sebuah perubahan. Muncul persepsi-persepsi bahwa perubahan yang terjadi akan berakibat lebih buruk dari yang diperkirakan pada mulanya. Mereka mulai merasakan berbagai kerugian akibat perubahan, dan mulai bernostalgia tentang indahnya masa lalu. Mereka mulai mempertanyakan, “apakah selama ini kita sudah salah langkah?” Mereka mulai merasakan bahwa mereka tak punya pilihan atau kontrol terhadap berbagai perubahan yang secara langsung ditujukan kepada diri mereka. Fase ini adalah fase terberat di mana orang memilih berbagai langkah.

Lick The Pain
Ada yang memilih diam dan hanya menjilati luka. Mereka merasakan sakitnya sendirian. Mereka bahkan tidak membolehkan orang lain memahami apa yang mereka rasakan. Hal ini secara negatif mulai mempengaruhi perilaku dan produktifitas.

Hiding Behind The Big Guys Back
Ada yang memilih marah tapi berlindung di balik punggung orang-orang besar. Mereka berusaha memanipulasi sistem untuk agenda pribadi mereka. Maka, moral komunitas atau organisasi mulai terpengaruhi secara negatif.

Angry
Ada yang memilih marah dan mengungkapkannya dengan agresif. Mereka tidak memperdulikan lagi perasaan orang lain, dan apa yang mereka ingin capai adalah menciptakan rasa sakit yang sama bagi orang lain. Mereka adalah orang-orang yang menyimpan dendam dan kesumat.

Mark The Territory
Ada yang memilih untuk mempertegas batas-batas teritori. Mereka memutuskan bahwa tidak semua hal bisa berjalan sesuai keinginan dan harapan. Muaranya, mereka mencoba untuk melindungi dan menutupi berbagai blunder dan kesalahan di wilayah-wilayah yang menjadi teritori mereka.

Not Sharing The Information
Ada pula yang memilih untuk tidak melakukan sharing terhadap berbagai informasi jika dipandang menguntungkan diri mereka. Jika mereka merasa bahwa kontribusinya tidak tampak diakui di mata otoritas, maka mereka akan menahan berbagai informasi yang dapat menguntungkan pihak lain atau semua pihak. Informasi adalah kekuatan.

Heal The Pain
Ketiga, adalah fase di mana orang mulai ‘menyembuhkan luka’. Fokusnya adalah diri sendiri dan bagaimana perubahan mempengaruhi diri mereka sendiri. Kelompok ini mulai melihat masa depan dan berbagai tantangannya. Ini adalah titik permulaan yang terhitung baik bagi semua pihak.

Commitment
Keempat, adalah fase di mana orang-orang mulai mencari persamaan dan komitmen bersama ke masa depan. Ibarat perkawinan, komitmen ini adalah komitmen seumur hidup demi masa depan dan kesejahteraan bersama.

Terima kasih atas kunjungannya. Semoga bermanfaat. Kunjungi Kang Salman on Blog melalui:
www.kangsalman.co.nr

Insan Mutiara
CP: 081392150409