¤ I CAN Institute ¤



Transformasi

16 December, 2006

Inti dari sebuah transformasi adalah mengubah cara kita berpikir. Pemimpin harus memiliki karakter kuat. Ada sejumlah model yang bisa dijadikan acuan. Demikian antara lain bagian paparan pakar manajemen pemasaran Rhenald Kasali dalam ceramah di depan 335 orang peserta Workshop Pertamina’s Leader Model di Lt. M Gedung Utama Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Selasa (3/9).

Hadir dalam workshop tersebut Direktur Pengolahan Suroso Atmomartoyo selaku keynote speech mewakilil Dirut Ari H. Soemarno yang berhalangan hadir; Direktur Umum dan SDM Sumarsono, Direktur Hulu Sukusen Soemarinda, serta jajaran pimpinan Pertamina lainnya.
“Kepemimpinan harus ada di mana-mana, dari mulai Direksi hingga manajer. Kepemimpinan itu yang harus menghasilkan sesuatu yang lebih baik,” ungkap Suroso.

“Untuk itu pemimpin harus memiliki vision, ethic, courage, dan reality. Itulah sebagai leadership diamond model,” paparnya.

LEVEL-LEVEL KEPEMIMPINAN
Menurut pengajar dari Universitas Indonesia ini, ada lima level kepemimpinan. Level kesatu adalah menjadi pemimpin karena posisi atau karena SK. “Menjadi pemimpin karena SK adalah pintu gerbang menuju level berikutnya,” jelas Rhenald.
Kepemimpinan level kedua adalah pemimpin yang mengutamakan relation-ship di dalam kepemimpinannya. Ia me-nekankan cara memimpin dengan hati.

Level ketiga adalah pemimpin yang berorientasi produktivitas. Orientasinya adalah results, atau bagaimana hasil dari proses kepemimpinannya. “Pemimpin di level ini mengandalkan prestasi,” jelasnya.
Kepemimpinan pada level berikutnya adalah pemimpin yang melakukan people development. Menurut Rhenald level ini sudah sangat tinggi karena telah memenuhi hakikat seorang pemimpin, yaitu menciptakan pemimpin yang lain, generasi setelahnya.

Sedangkan level kelima merupakan seorang personhood, seorang pemimpin yang telah menjelma menjadi spiritual leader. “Bahayanya kalau tipe pemimpin ini masih terus ikut mengatur,” katanya.

4C
Rhenald Kasali menguraikan tata nilai yang kini dianut oleh Pertamina yang diistilahkan oleh Direktur Utama Pertamina Ari H. Soemarno sebagai 4C (Confident, Clean, Customer Focus, Competitive).

Diuraikan oleh Rhenald Kasali unsur confident harus memiliki percaya diri secara individu, secara tim, sistem, dan stakeholders con fidence. Menurutnya dari rasa percaya diri ini akan melahir-kan citra dan kepercayaan dari orang lain. “Image itu tidak hanya dapat dibangun oleh polesan,” katanya.

Sementara unsur clean merupakan character driven people. Unsur ini memiliki karaker-karakter positif yang sangat berlawanan dengan emotion driven people. Misalnya karakter do right then feel good berlawanan dengan dorongan emosi feel good, then do right. Atau communication driven versus connection driven, lalu principle based decision versus popular based decision, termasuk creative momentum berlawanan dengan prinsip dorongan emosi what for momentum, dan lain-lain.
“Seseorang yang memiliki unsur clean akan bertanya what are my responsibilities bukan bertanya what are my rights,” jelas Rhenald lagi.
Untuk unsur costumer focus memiliki inti perubahan itu diarahkan ke pasar, bukan ke produksi. “Ada Ten Demandment!” katanya.

Kesepuluh sisi yang mengarahkan pada pasar ini memang memanjakan pasar atau pelanggan dari mulai earn their trust, inspiration them, make it easy (simple), put them in change, guidance them, be ready, know them, surprise them, give reward, hingga stay close.

Tatanilai keempat, competitive. Untuk sisi ini Rhenald Kasali menyebutkan tiga hal penting: be productive, be innovative, dan ketiga adalah low cost high margin.

Namun di akhir ceramahnya Rhenald mengingatkan bahwa 4C adalah alat, sedangkan variabelnya harus terus disesuaikan. “Strategi atau alat itu harus selalu dinamis!” katanya.

Tak lupa ia mengingatkan pemim-pin itu harus memiliki komitmen tinggi. “Orang-orang biasa yang memiliki komitmen tinggi akan melahirkan karya luar biasa,” ujar Rhenald Kasali di bagian akhir pembicaraannya.

www.pertamina.com 

    

Bergerak

“Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan).”

Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru Saya, “Change“.
Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng Saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Di tengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, Saya tawarkan uang itu. “Silahkan, siapa yang mau boleh ambil,” ujar Saya. Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.

Seperti yang Saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat Saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius. Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya. Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak.

Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk. Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya.

Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan Saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya. Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan. Semua audiens tertegun.

Saya ulangi pesan Saya, “Silahkan ambil, silahkan ambil.”
Ia menatap wajah Saya, dan Saya pun menatapnya dengan wajah lucu.
Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu.
Saya ulangi lagi kalimat Saya, dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan Saya dan kembali ke kursinya. Semua audiens tertawa terbahak-bahak.
Seseorang lalu berteriak, “Kembalikan, kembalikan!”
Saya mengatakan, “Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya.”

Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000.
Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak.
Bukankah uang yang Saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan?
Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:

“Saya pikir Bapak cuma main-main …………”
“Nanti uangnya toh diambil lagi.”
“Malu-maluin aja.”
“Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!”
“Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu..”
“Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya….”
“Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas…..”
“Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang….”
“Saya, kan duduk jauh di belakang…”
dan seterusnya.

Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari.
Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan), tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja.
Kita tidak menyambarnya, padahal kita ingin agar hidup kita berubah.

Saya jadi ingat dengan ucapan seorang teman yang dirawat di sebuah rumah sakit jiwa di daerah Parung. Ia tampak begitu senang saat Saya dan keluarga membesuknya. Sedih melihat seorang sarjana yang punya masa depan baik terkerangkeng dalam jeruji rumah sakit bersama orang-orang tidak waras. Saya sampai tidak percaya ia berada di situ. Dibandingkan teman-temannya, ia adalah pasien yang paling waras.
Ia bisa menilai “gila” nya orang disana satu persatu dan berbicara waras dengan Saya. Cuma, matanya memang tampak agak merah. Waktu Saya tanya apakah ia merasasama dengan mereka, ia pun protes.
“Gila aja….ini kan gara-gara saudara-saudara Saya tidak mau mengurus Saya. Saya ini tidak gila. Mereka itu semua sakit…..”. Lantas, apa yang kamu maksud ’sakit’?”

“Orang ’sakit’ (gila) itu selalu berorientasi ke masa lalu, sedangkan Saya selalu berpikir ke depan. Yang gila itu adalah yang selalu mengharapkan perubahan, sementara melakukan hal yang sama dari hari ke hari…..,” katanya penuh semangat. Saya pun mengangguk-angguk.

Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, Saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama.
Mungkin benar kata teman Saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana.
Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari,
Jadi omong kosong perubahan akan datang. Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.

Dulu, menjelang Soeharto turun orang-orang sudah gelisah, tapi tak banyak yang berani bergerak.
Tetapi sekali bergerak, perubahan seperti menjadi tak terkendali, dan perubahan yang tak terkendali bisa menghancurkan misi perubahan itu sendiri, yaitu perubahan yang menjadikan hidup lebih baik.
Perubahan akan gagal kalau pemimpin-pemimpinnya hanya berwacana saja.
Wacana yang kosong akan destruktif.

Manajemen tentu berkepentingan terhadap bagaimana menggerakkan orang-orang yang tidak cuma sekedar berfikir, tetapi berinisiatif, bergerak, memulai, dan seterusnya.

Get Started. Get into the game. Get into the playing field, Now. Just do it!.

Janganlah mereka dimusuhi, jangan inisiatif mereka dibunuh oleh
orang-orang yang bermental birokratik yang bisanya cuma bicara
di dalam rapat dan cuma membuat peraturan saja.
Makanya tranformasi harus bersifat kultural, tidak cukup sekedar struktural.

Ia harus bisa menyentuh manusia, yaitu manusia-manusia yang aktif, berinisiatif dan berani maju.
Manusia pemenang adalah manusia yang responsif.

Seperti kata Jack Canfield, yang menulis buku Chicken Soup for the Soul, yang membedakan antara winners dengan losers adalah
“Winners take action, they simply get up and do what has to be done”.

Selamat bergerak!

Sumber: Bergerak oleh Rhenald Kasali

    

Terima kasih atas kunjungannya. Semoga bermanfaat. Jangan lupa berkunjung lagi ya, untuk mendapatkan update artikel terbaru.