¤ I CAN Institute ¤



Konsep Kerja Cerdas

4 December, 2006

Mula-mula ekonom Itali  bernama Vilfredo Pareto (1848 - 1923) itu baru setengah kaget dengan hasil penelitiannya. Bahwa 80% kekayaan negara hanya dinikmati oleh  20% kelompok tertentu dari penduduk. Dengan kata lain, 80% dari penduduk hanya berkesempatan menikmati 20% dari kekayaan negara. Katakanlah kalau diasumsikan jumlah penduduk seluruhnya mencapai 100 juta jiwa, berarti hanya 20 juta jiwa yang kaya raya dengan mendapat 80% kekayaan negara. Sisa penduduk yang berjumlah 80 juta jiwa hidup pas-pasan karena kue negara yang hanya 20% harus dibagi-bagi. Karena setengah kaget dengan hasil penelitian tersebut, Pareto kemudian mengadakan penelitian di lain negara, ternyata hasilnya sama atau hampir sama.

Hasil penelitian Pareto ini sejak tahun 1897 akhirnya diresmikan menjadi sebuah rumus atau formula dengan berbagai macam nama: Pareto Principle; The Pareto Law; The 80/20 rule; The Principle of Least Effort; atau The principle of  Imbalance. Konon karena Pareto dinilai kurang artikulatif dalam menjajakan temuannya ini berdasarkan perkembangan metodologi dan konteks penelitian, akhirnya mendorong para pakar  untuk ikut terjun  melengkapi rumus atau temuan yang dinilai sangat berguna bagi pencerahan peradaban manusia ini. Tahun 1949, George K  Zipf, seorang professor dari Harvard University,  mengembangkan wilayah penelitian dengan menjadikan temuan Pareto sebagai acuan. Hasilnya bahwa manusia, benda-benda, waktu, keahlian, atau semua alat produksi telah memiliki aturan alamiah yang berkaitan antara hasil dan aktivitas dengan jumlah perbandingan mulai dari 80/20 atau 70/30. Contoh:

Karena dianggap memberi pencerahan,  rumus tersebut lalu diterapkan ke dalam pengembangan pribadi . Ternyata para pakar di bidangnya masing-masing menemukan sesuatu yang kira-kira sama dengan temuan Pareto. Artinya jika bicara hasil, ketepatan proses, dan kualitas maka hal-hal tersebut erat hubungannya dengan how well atau how good are you doing,  bukan how often dan how long. Dengan kata lain hasil yang diperoleh ditentukan sejauhmana anda bisa bekerja secara cerdas. Beberapa contoh:

Dalam dunia bisnis, untuk merebut pasar anda harus berpikir minimalistis dalam arti ketepatan strategi yang tidak melebihi kebutuhan pasar. Artinya temukan 20% dari strategi yang bisa merebut 80% daya tarik pasar dengan memberi 80% premiun solusi kepada 20% pelanggan setia. Jangan mengobral strategi yang justru menghabiskan 80% cost padahal hanya akan menciptakan 20% rate of return (Mack Hanan, dalam Fast Growth Strategy, McGraw-Hill International, Singapore, 1987).

Penelitian dalam hal efektivitas dan efisiensi  waktu menemukan bahwa 80% prestasi seseorang di bidang apapun diraih dari  20%  waktu yang dikeluarkan. Dan 80% kebahagian hidup ditentukan dari 20% waktu yang digunakan untuk mencarinya. Tanyalah pada diri anda, berapa jumlah waktu yang benar-benar anda gunakan dalam kaitan dengan tujuan anda pergi ke kantor selain waktu macet, ngobrol, atau melamun, atau membicarakan persoalan lain dengan kawan kerja? Jika jawaban anda ternyata menggunakan rumus yang sebaliknya maka anda tidak memiliki perbedaan dengan orang lain dan itu smaa artinya bahwa anda belum menerapkan cara kerja cerdas.

Aplikasi Kerja Cerdas

Sebagai bangsa yang agamis sekaligus kaya budaya leluhur, sebenarnya seruan kerja cerdas ini bukanlah barang baru. Tetapi persoalannya lagi - lagi berupa tools yang tidak di-update.  Selain disampaikan dengan "bahasa langit" yang seringkali menafikan proses pemahaman secara ilmiah dan alamiah  pun juga tidak dilakukan elaborasi kontekstual. Akibatnya pemahaman tentang ajaran agama dan budaya hanya bekerja pada persoalan yang bersifat minoritas dalam kehidupan nyata. Sebelum Pareto mengumumkan hasil penelitiannya dengan formula 80/20, kita sudah diajarkan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan mubazir atau yang tidak perlu. Sayangnya, ajaran mubazir yang kita pahami hanya sebatas kalau kita membuang makanan yang tersisa. Amat jarang kita berpikir mubazir secara profesi, ekonomi, atau strategi.

Untuk menjauhkan diri dari tindakan yang mubazir dalam kaitan dengan realisasi kerja cerdas harus dimulai dari langkah-langkah berikut:

1. Fokus pada skala pengembangan

Jika anda yakin bahwa diri anda memiliki keunggulan atau bakat alamiah, disamping memiliki kelemahan yang diakibatkan oleh faktor heriditas atau lingkungan, maka yang benar-benar anda butuhkan adalah  hidup dengan keunggulan tersebut secara cerdas (living with the advantage competitive factors). Hanya jika anda menemukan strategi hidup dengan keunggulan, maka anda akan keluar dari batas rata-rata prestasi lingkungan. Sebelum itu, paling maksimal yang bisa anda capai adalah kualitas hidup seperti orang lain atau  seperti yang diraih oleh sepuluh orang yang anda kenal  paling dekat.  Lalu ke mana keunggulan tersebut diarahkan? Jelas, keunggulan itu harus diarahkan untuk mengoptimalkan apa yang disebut dalam rumusan Pareto dengan 20% of determining factors (factor penentu). Oleh karena itu, temukan apa saja yang menjadi faktor penentu keberhasilan anda dari sekian daftar kegiatan yang anda lakukan dalam hidup. Tinggalkan hal-hal yang tidak perlu dan fgokuskan hanya pada hal-hal yang berpotensi untuk pengembangan diri.

2. Berani Berkorban

Di dalam dunia yang sebesar ini terdapat sekian banyak "persoalan kecil" yang kalau anda tidak berani berkorban untuk memaafkannya bisa jadi persoalan itu akan mendominasi muatan pikiran anda yang akhirnya bisa  membuat anda melupakan  sisi keunggulan, cita-cita, fokus pengembangan diri, dan lain-lain. Contoh yang paling sederhana dan sering terjadi di depan mata kita adalah ketika sedang di jalan raya. Di luar dari persoalan tabrakan serius, terkadang hanya karena mobilnya tersenggol sedikit saja orang rela membuang banyak waktu dan kebahagiannya pergi ke kantor. Bahkan bisa berkembang ke arah baku hantam. Padahal kalau dimaafkan (mau berkorban sedikit dengan kehilangan uang beberapa ratus ribu saja untuk memperbaiki mobil yang lecet), maka semua urusan selesai.  

Auditlah pikiran anda, persoalan apa saja yang kalau anda memaafkannya tidak akan merugikan anda secara misi atau visi dan tidak mengganti isi pikiran anda dengan muatan negatif. Untuk mengetahui apakah persoalan yang sedang anda hadapi tidak akan merugikan anda , gunakan standard audit berikut:

Apa saja yang menurut anda menjadi prioritas utama dalam kehidupan

Apa saja yang menurut anda didefinisikan sebagai persoalan penting dan tidak penting

Apa saja yang menurut anda didefinisikan sebagai persoalan darurat dan tidak darurat yang bisa jadi tidak penting dan tidak prioritas

Apa saja yang menurut anda didefinisikan sebagai persoalan "sampah" - tidak penting, tidak mendesak dan bukan prioritas utama. Namun dalam hal ini anda perlu menyeleksi secara ketat dan hati-hati, sebab bahayanya kalau anda secara mudah memasukan persoalan ke tong sampah ini maka anda bisa terjebak untuk meninggalkan misi atau fokus hidup hanya karena alasan mempertahankan posisi atau kondisi yang ada. Jika anda terjebak maka akhirnya rumus yang terjadi bukanlah 80/20 tetapi sebaliknya.  

 
3. Membuat Sekat Pembatas

Pada akhirnya anda harus menentukan batasan-batasan tentang apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapainya, apa modal yang dimiliki, dan akan kemana anda mengarahkan hidup anda. Dalam proses inilah terjadi seleksi dan pengecualian. Dari sekian luas dunia dan isinya, apa saja yang telah anda seleksi menjadi hal yang benar-benar anda inginkan sesuai format pondasi personal anda seperti: kiblat hidup, cita-cita, tujuan, target dan tindakan.

Semakin jelas anda memiliki format seleksi dan pengecualian, fokus pada pengembangan diri diiringi keberanian berkorban dengan memahami,  mengakui, membuang sesuatu yang tidak dibutuhkan dalam diri anda,   maka  akan semakin jelas wilayah dunia yang menjadi "hak" anda sehingga semakin tersimpulkan apa yang menjadi determining factors to success itu. Artinya faktor penentu semakin sedikit dan semakin sederhana dan biasanya yang sederhana itu justru akan bisa bekerja optimal. Sementara yang cenderung pelik, ruwet dan kompleks biasanya mandul. Semoga berguna.

Oleh Ubaydillah, AN

Sumber: Informasi Psikologi Online

    Artikle Selanjutnya »»

Tips Menghadapi Masalah

Pusing karena banyak masalah itu wajar. Karena setiap manusia hidup tak terlepas dari beban masalah, baik yang ringan sampai yang berat. Apalagi anda yang selalu disibukkan dengan pekerjaan dari hari ke hari. Tetapi seberat-beratnya masalah tentu ada jalan keluarnya. Tau nggak? Pada dasarnya kunci pemecahan setiap masalah tergantung pada diri sendiri bukan semata-mata pada masalahnya.

Biasanya setiap masalah datang, orang sibuk mengumpat, memaki-maki dan menyesali kenapa masalah itu menimpa. Padahal daripada sibuk memaki, lebih baik anda menyusun kekuatan untuk mengelola masalah tersebut. So, anda yang tengah stres menghadapi masalah coba simak tips singkat menghadapi masalah ala Robert H. Sculler dalam bukunya yang berjudul Tough Times Never Last, but Tough People Do:

- Hadapi setiap masalah yang datang
Jangan belagak cuek jika ada masalah, tetapi juga jangan bersikap panik. Sudah selayaknya anda peduli pada masalah yang menimpa anda, sekecil apapun masalah itu. Asal tau aja, banyak masalah kecil yang potensial menjadi masalah besar dan siap meledak jika anda tidak berusaha mengelola masalah itu secara efektif. Kalau didiamkan terus akibatnya anda bisa stres luar biasa.

- Jangan mendramatisir masalah
Mendramatisir masalah bukanlah hal yang manjur untuk memperbaiki keadaan. Stop mengeluhkan masalah anda kesana kemari. Dan jangan melebih-lebihkan masalah. Karena mendramatisir masalah hanya akan menambah beban masalah. Jernihkan pikiran anda dan tempatkan masalah pada sudut pandang yang objektif.

- Jangan kelewat santai
Melupakan masalah sejenak boleh aja. Selama ini banyak orang yang melarikan diri dari masalah dengan mencoba melakukan kegiatan yang menghibur. Tetapi jangan terlalu lama. Jika pikiran anda sudah tenang cobalah untuk memikirkan jalan keluar dari masalah anda. Karena masalah yang terlalu lama diendapkan akan semakin sulit diselesaikan. Lagipula semakin lama melupakan masalah, semakin banyak masalah baru bermunculan.

- Jangan emosi
Wajar sih kalo anda kalut dan emosi saat menghadapi masalah. Tapi usahakan agar emosi anda jangan sampai mengacaukan pikiran jernih anda. Biasanya kondisi yang emosionil akan menuntun anda pada tindakan yang destruktif. Maka hati-hati, saat anda emosi jangan coba-coba mengambil keputusan. Lebih baik anda cooling down dulu. Kemudian saat pikiran anda sudah tenang mulailah untuk memikirkan masalah itu dengan lebih seksama.

- Pakai strategi
Jangan cuma sibuk mengharapkan bantuan orang lain untuk memecahkan masalah anda. Cobalah atur strategi untuk memecahkan masalah. Boleh saja anda minta bantuan orang lain tetapi jangan berharap bahwa ia yang akan menyelesaikannya. Semua ada di tangan anda. So, anda harus mengatur strategi dan rencana untuk mengatasi masalah anda.

Selanjutnya, semua tergantung sejauhmana usaha anda untuk menyelesaikannya. Ingat, orang yang selalu lari dari masalah adalah orang-orang pengecut yang sama sekali tidak memiliki keberanian menghadapi masa depan. Dan anda yang tidak berani menatap dan menghadapi masa depan tidak akan pernah meraih sukses.

    Artikle Selanjutnya »»

Sukses, Antara Mitos dan Realita

Siapapun manusia di dunia ini pasti memiliki tujuan hidup yang sama yaitu ‘sukses’. Walau ukuran sukses bagi setiap orang berbeda-beda tetapi semua orang ingin sukses apapun bentuknya. Lalu sebetulnya apa sih yang dimaksud kesuksesan itu? Dalam bayangan orang awam, sukses itu identik dengan kedudukan, pendidikan tinggi, dan uang banyak.

Biar anda nggak penasaran sama ukuran sukses, coba deh simak mitos dan kenyataan tentang sukses, seperti yang diungkapkan oleh Allen Coach dalam bukunya The Top Misconceptions About Success:

Mitos: Orang tidak bisa sukses karena latar belakang pendidikan yang kurang.
Kenyataan: Orang bisa sukses bukan semata-mata karena pendidikannya yang tinggi. Setiap orang bisa meraih keberhasilan, walau pendidikannya biasa-biasa saja. Semua ini tergantung kemauan, usaha, dan kerja keras. Tetapi memang, agar lebih afdol, pendidikan juga menunjang.

Mitos: Agar sukses setiap orang harus bekerja lebih dari 60 jam seminggu.
Kenyataan: Persoalannya bukan terletak pada lamanya bekerja tetapi bagaimana anda dapat menyelesaikan tugas dengan benar. Percuma saja jika anda bekerja dengan waktu yang panjang tetapi anda tidak tau cara bekerja yang baik. Tetap saja pekerjaan anda tidak akan mencapai hasil yang lebih baik. So, yang penting sukses itu tergantung dari cara anda memanfaatkan waktu untuk mennghasilkan yang terbaik.

Mitos: Anda hanya bisa sukses jika selalu mengikuti peraturan yang berlaku.
Kenyataan: Setiap situasi membutuhkan cara yang berbeda. Memang hidup ini penuh dengan peraturan. Dan umumnya peraturan itu memang harus ditaati. Tetapi sesekali, untuk menjadi orang yang sukses anda perlu membelot dari peraturan selama anda yakin bisa meraih sukses dengan jalan yang anda pilih. Terkadang anda memang perlu menciptakan peraturan untuk diri sendiri yang dapat mengantarkan kesuksesan anda.

Mitos: Orang-orang sukses tidak pernah melakukan kesalahan.
Kenyataan: Orang sukses kan juga manusia biasa. Ia juga bisa melakukan kesalahan. Tetapi umumnya orang-orang sukses tidak akan mau mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Kesalahan justru dijadikan pengalaman dan pelajaran berharga untuk lebih sukses.

Mitos: Kesuksesan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor keberuntungan.
Kenyataan: Sebenarnya hanya dibutuhkan sedikit keberuntungan untuk sukses. Tetapi lebih banyak dibutuhkan kerja keras, pengetahuan, usaha, doa dan keyakinan. Setelah anda melakukan semua usaha ini, barulah faktor keberuntungan menyertai anda.

Mitos: Kesuksesan identik dengan banyak uang.
Kenyataan: Pada dasarnya uang hanya salah satu dampak dari kesuksesan. Di samping uang ada lagi dampak penting dari kesuksesan yaitu kepuasan dan kebahagiaan. Kalau anda punya banyak uang tetapi tidak pernah puas apalagi bahagia, berarti anda tidak pernah sukses.

Mitos: Anda telah sukses jika kesulitan telah berakhir.
Kenyataan: Ketika satu kesulitan telah berakhir anda masih harus menyingkirkan kesulitan yang lain. Karena sesungguhnya jalan menuju sukses itu sangat panjang. Maka, untuk melaluinya anda jangan pernah putus asa, jangan pernah patah semangat dan jangan berhenti di tengah jalan.

Mitos: Sukses harus diakui oleh semua orang.
Kenyataan: Ingat, ukuran sukses bagi setiap orang sangat relatif sifatnya. Jika merasa diri anda telah sukses sementara orang lain tidak tahu, anda tetaplah sukses. Atau katakanlah keluarga dan diri anda telah puas dengan apa yang telah anda raih, berarti anda juga sudah dapat dikatakan sukses.

Nah anda sendiri bagaimana memandang sebuah kesuksesan? Tetapi apapun persepsi anda tentang sukses, semua tergantung dari komitmen anda untuk meraihnya. Dan yang jelas, nggak ada kata terlambat untuk menggapai sukses!

    Artikle Selanjutnya »»

Terima kasih atas kunjungannya. Semoga bermanfaat. Jangan lupa berkunjung lagi ya, untuk mendapatkan update artikel terbaru.