Update Status Facebook Ary Ginanjar Agustian

January 12, 2012 – 10:54 pm

Selagi mentari masih menerangi jalan, selagi masih terlihat jejak utusanNya, berderaplah menyalakan lentera iman dalam hati manusia sebelum gelap menutup usia…

Berdoalah pada waktu ashar hingga matahari terbit kembali, karena pada waktu itu pintu-pintu langit terbuka, rezeki-rezeki dibagikan dan hajat-hajat penting dikabulkan…

Ada dua kunci keburukan di dunia ini yaitu MALAS dan MARAH, sudahkah Anda menjadi penguasa atas keduanya?

Nikmat Allah sering kali datang dalam bentuk yang tidak kita sukai: penyakit, kekecewaan, kehilangan. Jika kita sabar, kita akan segera melihat bentuk aslinya…

Setiap pagi adalah pagi yang baru, karena tak pernah sama antara pagi ini, kemarin dan esok. Jadikan pagi ini lebih baik dari sebelumnya… PAGI!!I

Nasihat terbaik adalah keteladanan, bukan rangkaian kalimat indah dan panjang. Sudahkah Anda memberi teladan kepada orang-orang terdekat?

“Samurai adalah satria elit Jepang yang dikenal pemberani dan mahir dalam menggunakan pedang, namun sangat santun, setia, dan senantiasa berpegang teguh pada nilai etika dan moralitas.

Nilai Bushido seperti jujur, tanggung jawab, hormat, disiplin, peduli, menjadi bagian yg tak terpisahkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Kehidupan para samurai diibaratkan seperti bunga sakura yang indah menawan namun hidup tak lama. Karena itu samurai selalu mengingat kematian setiap saat. Hal itu membuat mereka selalu menjaga diri dan pikirannya dari hal yang tidak pantas dan senantiasa melakukan yang terbaik di sepanjang kehidupan.

Mari kita belajar dari filosofi hidup samurai yang senantiasa menjunjung tinggi nilai kemuliaan (Bushido), meyakini bahwa hidup ini tak lama, dan lakukan yang terbaik disaat kita masih memiliki ‘waktu’….

Selamat memaksimalkan waktu hidup yang singkat ini…”

    Selanjutnya »»
Suka artikel ini? Bagikan ke teman-teman. Klik di bawah ini!
Share |

Update Status Facebook 7 Kejaiban Rezeki

January 12, 2012 – 10:41 pm

MENIKAH:
MEsra NIkmat BerKah…
Setuju-kaaah? :)

Uang yang disedekahin akan kembali.
Enaknya, ia akan kembali sambil ngajak teman-temannya.
Percayaaaaa? :D

Kita mungkin jadi karyawan…
Anak-anak kita harus jadi pengusaha…
Riiiiiight? :)

Menabung itu baik.
Investasi itu lebih baik.
Sedekah adalah yang terbaik
Riiiiiiiiiiight? :)

Ketika orangtua ridha, maka langkah-langkah kita jadi mudah…
Lantas bagaimana kalau orangtua tidak setuju dengan rencana dan impian kita? :)

Sedekah kita mungkin 10% atau 20%…
Tapi keyakinan HARUUUS 100% …
Yang setuju, ngacung yaaaaa…

Membayangkan sebuah impian mestinya mampu membuat hati kita bergetar…
Itu tandanya kita serius dengan impian kita…
Apa impian teman-teman untuk 2012 ? Biar kita amin-kan sama-sama…

Gratitude is a great attitude. Bersyukur adalah sikap yang hebaaat :)
Sepakaaaaaaat?

Kebahagiaan sejati itu ketika memberi…
Bukan ketika menerima…
Riiiiiiight? :)

    Selanjutnya »»
Suka artikel ini? Bagikan ke teman-teman. Klik di bawah ini!
Share |

Update Status Facebook Syafii Antonio

January 11, 2012 – 3:29 am

Life is not a small candle but it is a huge torch i have to make it burn as brightly as possible. Hidup bukanlah lilin kecil tapi obor besar yg menyala hebat.

Barangsiapa bermurah hati ia akan jadi mulia, jika kirir ia akan hina, barangsiapa segera berbuat baik kepada saudaranya ia akan memperoleh kelapangan akhirat.

Sayyidina Ali pernah berpesan bahwa “Ilmu dan kearifan yang paling tinggi adalah mengenal ALLAH SWT Tuhan kita” dengan Mengenal-NYA kita mengenal yang lain.

Jangan sekali kali seseorang menginginkan mati (frustasi) sebabjika ia baik akan bertambah kebaikannya jika ia jahat ia berkesempatan untuk taubat (HR.Bukhari).

Behind every successful person there’s a lot of unseccesful years. Dibalik keberhasilan seseorang terletak tahun-tahun kegagalan, itulah sunnah perjuangan Rasul.

“Cukuplah ALLAH bagiku, tiada Tuhan selain Dia. Kepadanya aku bertawakal, Dialah tuhan pemelihara Arasy agung” itulah doa pagi/sore nya Rasul untuk hidup cukup.

Jalan menuju Sukses itu di kelilingi dengan hal2 yang TIDAK menyenangkan, sedangkan Kegagalan di kelilingi dengan hal2 yang MENYENANGKAN.

    Selanjutnya »»
Suka artikel ini? Bagikan ke teman-teman. Klik di bawah ini!
Share |

Enjoy The Moments

October 19, 2011 – 11:29 pm

Seorang ayah memenuhi janjinya untuk mengajak anaknya pergi memancing. Dengan bersusah hati diantara schedulenya yang padat, si ayah berusaha mengambil cuti. Dan akhirnya, berangkatlah ia dengan anaknya, untuk pergi memancing. Seharian mereka memancing, tetapi tidak mendapatkan seekor ikanpun. Dengan marah-marah, akhirnya sampai sore, mereka pun pulang. Puluhan tahun berlalu, ternyata pengalaman ini dicatat oleh mereka masing-masing dalam diary harian mereka. Ketika dibaca ulang, diary si ayah bunyinya begini, “Kurang ajar. Hari yang sial! Saya sudah cuti seharian untuk memancing, ternyata tidak mendapatkan seekorpun. Sebel banget!” Sementara itu, diary anaknya pun dibuka, ternyata kalimatnya, “Terima kasih Tuhan. Hari yang luar biasa. Saya pergi memancing bersama ayah. Meskipun tidak mendapatkan seekor ikanpun, tetapi saya punya kesempatan ngobrol-ngobrol banyak dengan ayah. Sangat menyenangkan!”

Pembaca, betapa berbedanya sudut pandang si ayah dengan si anaknya. Bagi si ayah, yang terpenting adalah mendapatkan ikan-ikan, sementara bagi si anak, justru pengalaman memancing bersama itulah yang menyenangkan. Itulah orang-orang yang seringkali saya bicarakan di dalam seminar dan training saya, satunya lebih menghargai ‘milestones’ sementara lainnya, lebih menghargai ‘moments’.

Kejadian ini sebenarnya mengingatkan saya dengan pengalaman bertemu dengan seorang General Manager sebuah perusahaan ritel, dimana ia sangat sukses dan berhasil tetapi dalam konselingnya dengan saya, mukanya tampak letih. Singkatnya, ia mengatakan, “Aku capek, sangat keletihan. Hidupku rasanya bergerak dari satu target ke target lainnya”. Tidaklah mengherankan bagi saya kalau si GM ini keletihan hidupnya. Yang muncul adalah perasaan kasihan saya karena hidupnya hanyalah kumpulan dari gol satu ke gol lainnya. Bahkan, dengan keluarganya pun ia hampir tidak mempunyai waktu. Bahkan, untuk jalan-jalan dengan keluarganya saja, ia harus menjadwalkan, seakan-akan menset target apa yang harus dicapai dalam piknik keluarganya, dll. Sungguh meletihkan sekali melihat hidupnya!

Pelari Marathon atau Pendaki Gunung?
Metafora ini saya gunakan hanya untuk menggambarkan dua jenis orang di dalam menikmati hidupnya. Yang pertama, saya umpamakan seperti seorang pelari marathon. Saya ingat, saya pernah mengikuti beberapa kali lomba marathon, dan itu sangat menyenangkan. Masalahnya, saat mengikuti merathon, saya berlari dengan serius. Terfokus pada satu titik ke titik yang lain, hingga selesai . Bahkan, penonton yang di tepi jalanpun saya cuekin. Saya hanya terfokus untuk berlari dan akhirnya bisa sampai ke garis finish (ngomong-ngomong, ini mungkin tidak mewakili semua pelari marathon karena toh ada rekan saya yang bisa sangat menikmatinya). Singkat cerita, inilah tipe yang saya anggap mewakili orang yang hidupnya hanya dari satu ‘milestones’ (tahapan) ke ‘milestone’ yang lainnya.

Bandingkanlah gaya pelari marathon ini dengan gaya seorang pendaki gunung. Saya ingat, saya pun pernah punya berkesempatan mendaki gunung. Sungguh pengalaman yang agak berbeda dengan pengalaman jadi pelari marathon. Dalam mendaki gunung, kami memang punya tujuan yang harus dicapai, yakni puncaknya. Tetapi, sepanjang perjalanan, kami bisa bernyanyi-nyanyi, saling bercerita bahkan sesekali berhenti sejenak jika ada sesuatu yang menarik untuk dinikmati. Sungguh menyenangkan berkesempatan menikmati satu demi satu tempat yang kami lalui. Dan inilah metafora yang saya anggap mewakili orang yang hidupnya bisa bergerak dari ‘moment’ ke ‘moment’.

Nah, dengan kedua metafora tersebut, saya ingin mengajak Anda untuk merefleksikan bagaimanakah kecenderungan sikap Anda dalam menghadapi hidup ini, dalam menyikapi pekerjaan Anda, dalam menyikapi proses perkembangan anak Anda? Terlalu banyak karyawan, pimpinan maupun orang tua yang menyikapi pekerjaan dan keluarganya seperti ‘milestones’. Memang sih, pada akhirnya banyak yang bisa mereka raih, tetapi sekaligus, mereka juga banyak kehilangan sisi menyenangkan (fun) dalam hidup ini. Bayangkanlah seorang manager yang stres dan mulai kebosanan karena hidupnya hanya dari satu KPI (Key Performance Indicator) ke KPI lain, satu scorecard ke scorecard yang lain. Ataupun, bayangkan seorang tua yang melihat anaknya seperti sesuatu target yang bergerak. Akan sangat meletihkan.

Sebaliknya, bagi saya, kita bisa tetap sambil menikmati ‘moment’ sambil berusaha menggerakkan diri kita mencapai yang lebih baik. Kita bisa mencapai ‘gunung impian’ kita tanpa kehilangan kesempatan untuk berhenti, menikmati indahnya pemandangan dan bercanda ria. Jadi, mulai sekarang perlakukan hidup kita sebagai ‘moment’ bukan sebagai ‘milestone’ sehingga pada akhir ajal menjelang kita, akan ada banyak hal moment indah yang bisa dikenang! Salam Antusias selalu!

Best regards,

Anthony Dio Martin

diambil dari: http://gozalionline.blogspot.com

    Selanjutnya »»
Suka artikel ini? Bagikan ke teman-teman. Klik di bawah ini!
Share |

Semangat Membuat Apapun Menjadi Mungkin

October 11, 2011 – 1:48 am

Ada sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu, dan 2 orang anaknya bernama budi dan ayu. Menjelang liburan sekolah, sang ayah mengajak keluarganya untuk bertamasya dengan perjalanan laut. Si ayah berkata “Mam,budi,ayu, bagaimana liburan sekolah ini, kita pergi tamasya di perjalanan laut?”. Karena mendengar ajakan dari si ayah, anggota keluarga itu bersuka cita dan dengan semangat mereka menjawab “Perjalanan laut?? Wah asiikkkkk!!”. Wajah-wajah kegembiraan mulai tampak dari raut wajah keluarga tersebut. Sinar-sinar kegembiraan menyinari hati dan pikiran mereka.

Libur sekolah sudah mulai tiba, sang ayah telah memesan tiket perjalan tour dari sebuah agen perjalanan. Dan akhirnya mereka pun dijemput oleh pihak tour travelnya, dan mereka pun menuju pelabuhan untuk memulai perjalanan tamasyanya. Diperjalanan mereka sangat bersuka cita. Tidak ada raut muka bermasam selama perjalanan itu. Semua bernyanyi dan tertawa dengan perasaan lega. Sang ayah merasa gembira karena pekerjaan selama ini, dan juga gembira karena bisa bertamasya dengan keluarganya. Begitu pula sang Ibu dan anak-anaknya yang juga senang bisa bertamasya dengan keluarga. Setelah sampai di pelabuhan, mereka pun masuk ke dalam kapal pesiar itu dan siap untuk bertamasya.

Kapal pesiar pun sudah mulai beranjak dari pelabuhan menuju perairan luas. Kapal itu berjalan menghalau deburan ombak kecil dan melewati hembusan angin dingin laut tersebut. Setelah sampai di pertengahan laut tersebut, tiba-tiba cuaca mulai berubah menjadi tidak bersahabat. Angin berhembus dengan kencang dan deburan ombak pun berlomba-lomba menuju kapal tersebut. Karena kapal tersebut tidak kuat menahan tekanan tersebut, akhirnya kapal itu menjadi karam di tengah laut. Keluarga itu menjadi panik karena kejadian tersebut terjadi secara tiba-tiba. Sang ayah memberi aba-aba kepada anggota keluarganya itu untuk saling berpegangan tangan. Anggota keluarga pun saling berpegangan tangan. Dan tanpa disangka, kapal itu semakin lama semakin tenggelam.

Kejadian itu membuat orang merasa bahwa tidak akan selamat. Tetapi sang Ayah dengan penuh semangat dan rasa sayang terhadap keluarganya, berusaha sekuat tenaga untuk menolong anggota keluarganya. Ibu dan 2 anak itu sudah mulai masuk ke air, dan si ayah pun dengan sekuat tenaga berenag ke arah si ibu dan kedua anaknya itu. Dengan susah payah si ayah menolong mereka. Padahal si ayah sendiri kaki dan tangannya sudah tergores pecahan kapal dan mengeluarkan darah yang cukup banyak. Tetapi ayah selalu berusaha dan berusaha untuk menahan sakit demi keluarganya. Si ayah berpikiran untuk rela mati demi keluarganya. Akhirnya mereka pun selamat karena ada patroli laut. Dan mereka pun di bawa ke daratan dan menuju rumah sakit.

Dari cerita diatas dapat kita ambil maknanya bahwa pengorbanan sangat diperlukan dalam hidup. Tentu pengorbanan itu didukung dengan semangat yang kuat dan tentu saja dengan cinta kasih. Seperti halnya orang yang tadinya kaya raya. Hal ini digambarkan dari cerita di awal perjalanan tamasya keluarga tersebut. Mereka bersuka cita dengan kekayaannya itu. Tapi di perjalanan kehidupan ini, halangan pasti datang terjadi. Orang bisa kehilangan hartanya. Tetapi, kalau dengan kehilangan harta tersebut dan kita tetap semangat denga kita juga kaya mental, maka hal tersebut dapat bangkit lagi. Seperti keluarga yang hampir mati tenggelam tersebut.

Sumber: Hao Yen dalam http://andriewongso.com

    Selanjutnya »»
Suka artikel ini? Bagikan ke teman-teman. Klik di bawah ini!
Share |